Tag Archives: preman

Vrijman

Vrijman, sebuah kosakata Belanda yang arti harfiahnya orang bebas, merdeka. Dalam bahasa Inggris, vrijman sejajar maknanya dengan kata ‘free’ dan ’man’. Free, diterjemahkan sebagai bebas, merdeka dan man diterjemahkan sebagai orang laki-laki, dewasa, manusia. Sayangnya dalam bahasa Indonesia, kata ‘vrijman’ yang diserap menjadi ‘preman’ mengalami perubahan makna dan berkonotasi negatif. Preman diartikan sebagai individu/sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya, terutama dari pemerasan individu/kelompok masyarakat lain.

Nah, aparat kepolisian RI melakukan sebuah usaha yang patut diacungkan jempol, walaupun mungkin saja sia-sia. Preman-preman ditangkap. Diperiksa identitasnya, digelandang masuk ke dalam sel. Mereka, para preman itu, anak bangsa yang salah arah. Mereka ada karena terhimpit keadaan, entah lingkungan sosial, atau ekonomi. Cengeng? Belum tentu. Terpaksa? Bisa jadi.

Masalahnya apakah karena terhimpit keadaan lantas menjadi preman dibenarkan, kan tidak. Ingatan kemudian membawa saya pada sepotong lirik lagu yang dinyanyikan Ikang Fauzi, diberi judul Preman.

Di zaman resesi dunia / pekerjaan sangat sukar / juga pendidikan
Di sudut-sudut jalanan / banyak pengangguran
Jadi preman / ‘tuk cari makan
Di balik wajah yang seram/ tersimpan damba kedamaian
Di balik hidup urakan /mendambakan kebahagiaan
Bahagia…bahagia…bahagia…

Seorang preman tidak membutuhkan apa-apa. Tidak butuh ditangkap, tidak butuh ditanyai macam-macam. Mereka hanya butuh memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan layak. Sebuah masalah klasik yang sebenarnya kompleks. Soal pemerataan kesejahteraan, dan pemenuhan hak azasi manusia atas pendidikan yang cukup.

Solusi yang paling feasible untuk mengurangi praktek premanisme salah satunya adalah kontrol sosial yang dilakukan anggota masyarakat sendiri. Dengan melaporkan kepada pihak terkait misalnya. Atau dengan membina para preman tadi untuk masuk kembali ke masyarakat. Tidak perlu takut pada mereka, apalagi berprasangka buruk. Mereka juga manusia, diciptakan semata untuk beribadah pada sang Pencipta. Masyarakat harusnya bisa belajar dari apa yang dilakukan H. Anton Medan. Beliau membina mereka-mereka yang baru ‘lulus’ dari hotel prodeo, agar tidak kembali salah arah. Dan ‘siswa’ binaan beliau pun terbukti bisa berkarya walaupun raport hidupnya sudah dinoktah dengan cap ‘mantan napi’.

Di kampung saya, mereka-mereka yang terlanjur dicap sebagai preman diajak warga untuk berkarya, dengan modal dari swadaya masyarakat. Beberapa dermawan bahkan mengajak mereka untuk bekerja. Hasilnya, mereka kini tidak lagi meresahkan dan justru membantu warga lainnya menjaga keamanan kampung.

Apakah teman-teman punya solusi lainnya?

21 Komentar

Filed under personal