Tag Archives: Jakarta

Robot

lgfp1823protect-destroy-transformers-the-transformers-movie-poster

Robot- robot ini dalam ukuran aslinya akan hadir dihadapan Anda. HBO Asia telah menerbangkan Autobot® and Decepticon® dalam ukuran sebenarnya ke Jakarta. Berdasarkan informasi yang saya terima dari Shia LaBeouf, mereka akan mendarat di Lantai 2, Atrium Mal Taman Anggrek (MTA), 29 November 2008, mulai pukul 10.00 wib. Shia juga mengatakan bahwa kedua robot ini ada di MTA selama dua hari saja dan kemungkinan besar melanjutkan perjalanan ke negara lain.

See you there, guys! 😀

UPDATE :

Sabtu, 29 November 2008, akhirnya saya datang ke MTA untuk melihat apa yang ditawarkan oleh HBO. Dan saya dengan amat terpaksa harus kecewa. The whole event is fun actually, but not for me. It’s for the kiddo (ages 5 to 15). For those who wants to meet a real robot, be prepare to be dissapointed. But, for those who bring his/her younger brother (So-so lah).

to HBO (Karen Lai and Angela), R&R (Mbak Rika, Mas Harry, Mbak Eny, Fifin, Astried, Ade) :  Anyway, thanks for the invitation to write some feedback about the event. The lunch was great, i’m full. Hehe.

12 Komentar

Filed under advertorial, Event, Jakarta

human loves human by kontraS

poster-movie-section-1Human Loves Human is a social campaign by KontraS. The purpose is to prevent acts of violence and human rights violations. It does so by inspiring people to love each other because ignorance towards others and injustice for the weak can be transformed into tolerance and respect for every human being.

Human Loves Human will be presented by KontraS in an important cultural event: the Jakarta International Film Festival (JiFFest). JiFFest is widely known for its role in promoting the film industry as well as presenting entertaining films. At JiFFest, films are presented as a source of inspiration for people to do big things.

The movie Indiana Jones inspired Butet Manurung, a teacher teaching at a jungle school for orang rimba, which also continues to inspire many people. Soe Hok Gie started his struggle by discussing inspirational movies. The characters Lintang and friends in the movie Laskar Pelangi is an inspiration for children not to give up easily in the face of difficulties. Movies are a bridge between the politics and culture and work of art.

Human Loves Human is an effort to strengthen the bridge by spreading peace and anti violence. Violence and wars pollute the kind of clean politics and culture needed for the best interests of the public and common welfare.

Love in ‘Human Loves Human’ may be interpreted as an expression of human love. It would not be wrong. What we want to nurture is a greater kind of love between human and other living creature. Eric Fromm wrote about the art of loving in the warm relationship between mother-father and children, best friends, and lovers in affection, humility, sacrifice and courage. Human history has proven that hate and greed have caused human sufferings and destruction of universe, including global warming. All of which worsen the lives of human and other living creature.

Let’s celebrate the spirit of Human Loves Human by watching the best humanitarian movies at JiFFest this year. Enjoy the movies and let’s share the hope!

For more information :

The Commission for The Disappeared and Victims of Violence (KontraS)
Jl. Borobudur No. 14, Menteng
Jakarta Pusat 10320
Indonesia
P: +62 (0) 21 3926983
F: +62 (0) 21 3926821
M: +62 (0) 817 5455229

email-blast-ad_1

notes : You can see the event schedule written on the poster above, simply right click your mouse and open in a new tab. See you there! ,rgds

4 Komentar

Filed under advertorial, Event, Jakarta

Mengumpat

Apa rasanya menjadi supir angkot (angkutan perkotaan) di pinggiran kota Jakarta? Berat? Tentu saja. Coba bayangkan sepintasan jalan yang dilalui seorang supir dengan trayek ulujami-pondok betung (kurang lebih berjarak 8 km). Rute tersebut kurang lebih diisi oleh 3 nomor angkutan, yang masing-masing nomornya paling tidak bersaing 10-15 mobil seukuran Daihatsu colt/hi-jet. Kemudian bayangkan lagi bagaimana penuh dan ramainya jalanan berlebar kurang lebih 3 meter bila diisi juga dengan (begitu banyak) motor dan mobil pribadi yang melaluinya. Macet. Pasti.

Nah, dengan keadaan separah itu, seorang supir angkot seringkali (-maaf- sering sekali) hanya mengangkut satu-dua penumpang didalam mobilnya. Padahal setiap penumpang dengan jarak tempuh yang disebutkan diatas paling besar membayar 2000 rupiah. Bandingkan dengan biaya yang harus dibayar untuk bahan bakar dan pungli yang harus dibayar pada oknum-oknum ‘empunya’ jalan.

Tingkat kehidupan mereka boleh jadi sangat rendah. Belum lagi, ditambah umpatan-umpatan yang sering diberikan pengemudi jalan lain yang mungkin kesal karena ulah ‘ngetem’ supir angkot di sembarang badan jalan. Stressfull? Indeed.

Apa pernah teman-teman mengumpat pada supir angkot? Hah sering?! Sudah pernah jadi supir angkot teman-teman? Oh, belum? Jangan diumpat lagi ya teman-teman.

8 Komentar

Filed under Jakarta, opini saya, personal

andaikata Jakarta

Mari berandai-andai Jakarta tidak macet, jalanan selalu lengang. Hanya satu dua mobil yang ‘mewah’ dan bus yang lalu lalang. Sesekali bel sepeda yang digunakan para pekerja berbunyi, “kriing kriing..”. Pengemudi Bus membalas bel tersebut dengan ‘sapaan lembut’ seraya senyum menyungging dari bibirnya, “teet teet..”. Para pejalan kaki tampak hilir mudik. Mereka sehat, karena polusi minimal, dan trotoar nyaman. Indah, seperti kota Singapura.

Disepotong jalan, sepasang muda-mudi, pejalan kaki berteduh di kursi taman yang tersedia. Sekedar beristirahat dibawah pohon yang rindang, seraya menikmati kecap demi kecap es krim yang dihidangkan seorang tua bergerobak sepeda. Pak tua berdagang dengan penuh semangat, ya kehidupan berjalan semakin baik karena penduduk kota saling peduli satu sama lain. Tidak ada yang saling mendahului, warga kota yang tua bahkan mendapat perlakuan khusus, begitupun mereka yang perempuan. Kota begitu gentle berlaku pada warganya. Pun warga peduli pada perasaan kotanya.

Diseberang jalan, sepasang kakek dan nenek terlihat berjalan-jalan bersama cucunya. Penuh keceriaan, sesekali mereka tertawa menghibur sang cucu. Keduanya tampak bahagia karena kota yang ditinggalinya begitu nyaman, walaupun sibuk dengan berbagai kegiatan ekonomi.

Ah, ini hanya ilustrasi yang ada dikepala saya. Membayangkan sepotong jalan di Singapura menjadi bagian dari potongan-potongan jalan yang ada di Jakarta.

***

Kota mungkin begitu berperan membentuk perwatakan warganya, pun warganya berperan membentuk perasaan kota. Andai Jakarta sebagai kota punya perasaan, mungkin sudah sejak 10 tahun terakhir Jakarta penuh emosi, penuh benci, amarah. Jakarta pun berkembang menjadi kota yang panas, sesak, dan penuh kompetisi. Warganya berkompetisi satu sama lain, tanpa ada kompromi apalagi saling mendukung.

Sejak masa Sentralisasi ekonomi Orde Baru, Jakarta begitu memusatkan diri menjadi inti dari sebuah Kekaisaran Cen yang dipimpin Kaisar To. Semuanya menjadi tumpek-blek di Jakarta. Segala macam kegiatan ekonomi dengan segala macam manusianya. Dari kiai musholla sampai preman pasar kadut. Dari nenek-nenek lanjut sampe balita muda belia. Dari pekerja berdasi sampai sekedar tukang cuci. Hidup dari rumah mewah diseputaran Menteng sampai rumah kumuh dipinggir rel Jatinegara. Semuanya ada, Tumpek-blek.

Jakarta butuh perubahan yang besar. Kotanya harus dipaksa berevolusi. Bila pemerintah tidak mampu, biar warganya yang turun tangan. Lemparkan senyum pada sesama, bukan kail emosi. Tidak perlu saling mendahului, hidup terlalu berharga untuk sekedar menjadi street fighter karena rebutan badan jalan.

***

Kapan kiranya Jakarta berevolusi?

6 Komentar

Filed under Jakarta, opini saya, personal