Tag Archives: hidup

Inspirasi

hidup-tak-bisa-menungguBuku, baca, dan mulailah bermimpi. Tiga hal itu saling berkaitan. Buku merupakan pintu bagi dunia yang luas. Dalam ceritera komikal Doraemon, sebuah buku direpresentasikan sebagai ‘pintu kemana saja’. Dari sebuah buku biografi misalnya, anda mungkin akan dapat bertemu tokoh-tokoh sekaliber Ibu Theresa, dan Putri Diana. Atau dari sebuah buku sains, anda bisa saja menjadi mengerti kenapa buah apel bisa jatuh kebawah, atau mungkin kenapa ekor kadal tetap bergerak meskipun sudah terputus. Banyak pintu-pintu menarik lainnya yang bisa kita jelajahi melalui sebuah buku.

Membaca merupakan pengalaman paling personal yang dilakukan setiap orang. Ya, setiap manusia dianugerahi dengan alam berfikirnya masing-masing. Setiap jejaring ingatan kemudian saling berasosiasi dengan apa yang kemudian kita baca dari sebuah buku. Kemudian terbentuklah sebuah kumpulan memori baru, yang isinya sangat personal. Sebuah interpretasi dari apa yang telah dibaca. Bila bahan bacaan yang diterima kemudian menginspirasi secara personal. Maka lahirlah hal ketiga, mimpi.

Mulai bermimpi tentu saja belum cukup untuk menjelajahi hidup. Mungkin cukup untuk mereka yang senang melayang dalam imajinasi atau sekedar berenang dalam lautan fantasi.

***

Sebagai bagian dari corporate social responsibility (CSR), Sunsilk memiliki konsep yang menarik. Sebuah kampanye besar yang bertagline ‘Sebab Hidup Tak Bisa Menunggu, juga Rambut Indahmu!’. Prosesnya dimulai dengan mengumpulkan cerita-cerita yang mampu menginsirasi perempuan Indonesia untuk mampu bermimpi dan berusaha menggapainya. Proyek yang digarap bersama dengan Grup Femina ini berhasil mengumpulkan kurang lebih 5000 cerita dari perempuan Indonesia. Memang tidak semua cerita kemudian secara serampangan masuk ke dalam final projectnya. Setelah dilakukan seleksi yang cukup ketat, hadirlah lima kisah paling inspiratif.

Kelima kisah ini digarap ulang oleh Prameshwari Sugiri, pemred majalah Seventeen, ke dalam bentuk cerpen yang menurut saya cukup mempesona. Tidak cukup dengan kelima kisah tadi, Krisdayanti, Brand Ambassador Sunsilk, pun ikut membagi kisah hidupnya. Dan kini lahirlah sebuah buku yang diharapkan mampu menginspirasi para perempuan Indonesia. Judul buku ini sesuai dengan tagline kampanye Sunsilk, “Hidup Tak Bisa Menunggu”.

Saya yang juga kebagian buku ini, harus mengacungkan kedua jempol saya untuk tim dari Sunsilk, Femina Grup, R&R Communications, dan tentu saja kelima perempuan yang telah bersedia berbagi inspirasi dalam buku ini.

***

Bagi sebagian besar perempuan, rambut merupakan mahkota. Mewakili segala aspek yang berkaitan dengan nilai-nilai estetika. Lebih jauh lagi bahkan ada yang sampai menilai rambut merupakan representasi filosofi hidup seorang perempuan. Buat saya, sederhana saja. Rambut perempuan yang indah itu punya tiga kriteria standar : hitam, terurai panjang dan berkilau.

Anda mungkin bertanya, bagaimana ya cara dapet rambut mendekati tiga kriteria indah tadi? Aha! Gunakan Sunsilk!

notes : Anda tertarik untuk membaca bukunya?
klik gambar di atas untuk keterangan lebih lanjut.

9 Komentar

Filed under advertorial

dikejutkan Kematian

Tidak pernah terbayangkan sedikit pun dalam benak, ketika tiba-tiba saja seorang teman tarawih di musholla bertanya,

Emang lo yakin cing bsok lo masih idup?

Dalam sekejap, bulu kuduk saya merinding dan pikiran melayang tanpa arah. Membayangkan kematian yang menyergap, pelan-pelan tubuh meregang nyawa. Dari ujung ibu jari kaki, trus merayap ke samping, ke jari yang lain. Ada rasa merinding, seolah dikerubung semut api yang maha banyak. Selesai dengan jari yang kemudian beku membiru kaku, merambat naik ke mata kaki, semut-semut naik, seolah merumputi pangkal tulang kering. Lutut, lutut bergetar, seolah tidak ikhlas untuk disergap, seolah tidak pernah merasa berbuat kejahatan. Tubuh berguncang kencang. Nyawa meregang namun berontak. “Aku masih ingin hidup di bumi!!!” ,teriak batin yang sesak.

Ingatan, seperti sebuah labirin misteri melayang-layang jauh, pada kenangan-kenangan manis dan pahit. Air mata mendadak seperti rentetan peluru tentara yang kalut di medan perang. Berdesing tanpa arah. Entah karena diserang kesedihan atau tawa. Entah didera cinta atau menumpuk dendam. Ingatan kembali melayang-layang, pada sebuah akhir. Tentang hari pertama di dunia, harapan ayah dan bunda sesaat anak keluar dari rahim. Teringat nama pemberian, yang seperti mantra, diucap berulang-ulang, agar harapan tidak sekedar seperti angin berkelebatan. Nama itu harapan nak, seperti diucap sepotong memori yang memanggil.

Semua sudah terlambat, satu tarikan lagi kearah pangkal tenggorokan. Sayup-sayup terdengar, potongan-potongan kalimat taubat. “As..taaaggh..fii..ruuu..llaaahh..”. “Laaa..iilaaaa..haa..illlaa..alllaahh”. Lidah yang biasanya tajam, mendadak kelu. Bibir bergerak miring-miring, seolah ditarik-tarik kail Izrail. Suara-suara yang tadi sayup terdengar semakin kencang. “Alllaaaahuu Akkbaaaar…Astaghfirulllaaaah..”. “Laaaa ilaaa ha illaAllaaah…”. Sayup sayup suara itu menghilang dan hening. Gelap dan senyap.

———-

Kematian menyergap begitu cepat dan aku teringat potongan-potongan sakratul maut sahabat-sahabat dalam hidupku. Menangisi fragmen-fragmen hidup yang sudah lewat, rasanya tidak lagi berguna. Karena pada penyesalan yang datang kemudian tersisa sebuah tanya, tentang untuk apa Dia menciptakan manusia?

Sudah pernah melihat akhir hidup manusia, teman-teman?

*gambar diambil dari sini

4 Komentar

Filed under personal

Bermimpi dengan Cinta

Cinta, sebuah elemen dalam hidup yang membawa pemiliknya terbang tinggi menembus lapisan-lapisan kemampuan dan terkadang melebihi batasan-batasan keberadaan. Cinta pula yang memperkenalkan hidup pada harapan serta impian. Keinginan sederhana untuk mengecap, menyentuh dan merasakan sesuatu. Memiliki. Menjadi pemenang.

Impian adalah anak yang dilahirkan oleh rahim Cinta, beroleh dari perasaan yang megah akan sebuah titik. Sederhana, sebuah titik. Didalamnya mungkin ada saya, ada anda, dan ada impian itu sendiri. Mungkin sama, mungkin juga tidak.

Manusia, makhluk hidup yang dianugerahi akal dan perasaan pada saat yang sama. Dengan bekal yang dimilikinya sesaat memasuki kehidupan di bumi, ia merasa, dan berfikir. Dimana saya, siapa saya, mengapa saya ada disini. Ia menangis, dan ditemukannyalah bunda. Peraduan pertamanya, tempat meneriakkan kebingungan dan kekalutannya seketika menghadap bumi.

Adalah Bunda yang kemudian mengajarkan akal dan perasaan untuk memiliki Cinta. Cinta yang dipahami sebagai keinginan yang kuat untuk menggapai sebuah titik. Entah titik itu seperti musim gugur di taman raksasa, yang menguning berjatuhan ke tanah kembali padaNya. Atau seperti ulat yang merayap nan hijau bangkit dan tumbuh menjadi besar, memuja sekaligus menantangNya sebelum menjadi bagian dariNya, sebuah kupu-kupu yang penuh warna. Siklus hidup begitu nyata.

Lalu sebuah pertanyaan muncul dalam benak sang anak, apa yang sesungguhnya diimpikan untuk dicintai?

Sudah teman-teman bermimpi dengan Cinta? Atau sudah teman-teman mencintai apa yang diimpikan?

4 Komentar

Filed under personal