Category Archives: opini saya

my thougts, my writing

pilih idenya

Masa kampanye yang sesungguhnya semakin dekat dengan kita, Kawan. Spanduk, poster, kalender sampai leaflet sudah memenuhi sudut-sudut kota. Jakarta atau daerah, sama saja. Seminggu terakhir di kampung betawi, tempat saya tinggal, sudah berdiri dua posko partai. Satu partai kebo ireng dan yang satu partai yang katanya pake hati. Di mobil pribadinya, Caleg yang katanya berhati nurani itu pun memajang stiker besar berlambang partai dan tak lupa foto dirinya bersama sang jenderal. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Pak caleg kebo ireng lain lagi caranya, dia undang seisi kampung untuk datang ‘pengajian’. Bubar pengajian, sembako senilai dua puluh ribu rupiah dibagikan. Yang ‘lucu’, beberapa tetangga kemudian mendesis,

“ah mending juga dibagiin duit, kita mah gak butuh sembako…”.

Kejadian diatas mungkin tidak hanya terjadi di kampung saya saja.

***

Suatu siang saya sedang di dalam angkot (angkutan kota), mata saya memicing pada kaca belakang kendaraan ini. Pemandangan cutting stiker besar, tertulis disana “DJUANDA, SH : Mari lawan ketidakadilan” dan tentu saja foto sang Caleg berhati nurani. Senyum saya menyimpul, tergelitik untuk mencari tau apakah ada angkot lain yang memasang stiker yang sama. Saya pun turun di depan pasar kebayoran lama, tempat menumpuknya segala jurusan angkot -dari dan ke- ciledug. Lima belas menit saya mencari-cari, sudah lima angkot yang memajang stiker yang sama. Pikir saya, narsis juga bapak yang satu itu.

Pakde ini rupanya merasa belum cukup hanya menempel cutting stiker diangkot. Dipasangnya pula bendera-bendera berukuran satu kali setengah meter entah berapa ratus jumlahnya. Tak lupa, namanya, logo partai dan nomor yang kabarnya sakti, enam. Puas dengan cutting stiker dan bendera? Oh belum. Ada satu trik lagi untuk membantu ingatan masyarakat. Spanduk-spanduk besar dengan tulisan yang sama besar, DJUANDA SH. Entah apa tujuan spanduk itu, karena kali ini hanya namanya saja, tanpa embel-embel. Mengambang, persis seperti masyarakat pemilih Indonesia pada umumnya.

Sampai dirumah, saya merasa ‘mabuk djuanda’. Bagaimana tidak? di angkot, di ujung gang, di atas ruko, di pagar pembatas jalan layang, di mana-mana.

***

Setiap kali saya berfikir tentang siapa yang akan saya pilih Pemilu nanti. Tiap kali itu juga saya diam karena tidak punya jawaban. Apa kiranya kriteria caleg atau capres yang layak dipilih?

1. Sering mengadakan pengajian lalu bagi-bagi sembako atau duit
2. Foto, dan taglinenya mejeng dimana-mana
3. Kebetulan ‘yang bersangkutan’ tetangga sendiri

Tiga kriteria diatas mungkin sering menjadi acuan para pemilih mengambang. Masalahnya, bila hanya tiga poin diatas yang jadi bahan pertimbangan, bisa-bisa berabe semua urusan yang berhubungan dengan publik.

Lalu apa ya yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan?

Ide atau solusi yang dibawa oleh sang caleg atau capres. Ide bukan sekedar janji, apalagi tagline beo seperti Mari Lawan Ketidakadilan. Kita sama-sama tahu masalah publik di masyarakat dan negara begitu banyak. Tapi, sudah seharusnyalah seorang caleg atau capres maju ke depan dan menyampaikan ide-ide yang mereka ingin tanamkan dalam rencana kerja setelah terpilih. Kenapa? sederhana saja, orang Indonesia sudah lelah dijanjikan ini itu.

Saya ambil contoh sederhana saja, Kawan. Indonesia misalnya punya beberapa issue penting, sebutlah ketahanan pangan, penanaman modal asing, dan penguatan industri nasional. Ketiganya saling berkaitan, langsung maupun tidak langsung. Lalu timbul pertanyaan, dari ketiga issue tadi mana yang harus didahulukan sehingga ketiganya tumbuh-kembang secara berkelanjutan dan mendorong kesejahteraan?

Nah, caleg atau capres yang layak pilih akan dengan berani mengajukan sebuah proposal berisi ide-ide untuk menjadi solusi permasalahan yang ada.

***

Sudah bertemu caleg atau capres yang punya proposal seperti itu, Kawan?

Anyway, Kawan merasa ‘mabuk djuanda’ juga gak? hahaha..

Iklan

3 Komentar

Filed under opini saya

Pahlawan teror

Mereka yang pernah berjuang untuk membantu negeri ini menjadi nyata, tidak pernah mengharapkan gelar. Hidup mereka memang sudah digariskan menjadi seorang pejuang. Gelar “pahlawan” ditambah embel-embel kata “nasional”, saya rasa tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran. Saya percaya mereka saat ini sudah tenang karena tugas sudah dibayar tunai. Walaupun perjuangan tidak pernah mengenal garis final. Soal bagaimana sebuah perjuangan dilanjutkan, itu sudah menjadi urusan kita-kita, generasi yang masih bernafas di bumi pertiwi.

Menyoal penghormatan cukup diberikan dengan melanjutkan perjuangan mereka setulus hati. Tidak perlu kemudian berpolemik soal siapa yang pantas dan kriteria apa yang menjadi standar baku agar seseorang bisa mendapat gelar. Sudahlah, mereka yang pahlawan saja tidak pernah meributkan soal itu. Kenapa kita yang masih hidup malah ribut? Apa iya mereka sempat menulis wasiat kepada anak cucunya agar suatu hari diajukan proposal mengenai pemberian gelar pahlawan nasional? Kan tidak.

Kalaupun ada sebuah wasiat misalnya, pasti isinya pesan yang singkat soal melanjutkan tugas yang mereka perjuangkan selama ini. Itu yang lebih penting. Negeri ini hanya butuh satu hal : mereka yang mau berjuang. Tidak lagi butuh mereka yang senang beradu otot, atau senang berteriak-teriak. Ibu pertiwi sudah lelah melihat darah yang mengalir. Ini sedikit ribut. Itu sedikit lempar batu. Agh STOP!

Teror. Itu kata yang melompat-lompat di kepala saya. Negeri ini penuh teror. Ada yang hanya main-main. Mungkin otak dan hatinya sudah pindah ke bawah kaki. Ada juga yang dengan semangat, mengepalkan tangan, dan berteriak, “Kami akan melanjutkan perjuanganmu Ya Amrozi! Ya Mukhlas! Ya Imam Samudera!”. Nah yang ini mungkin otaknya sudah digadai dengan dendam. Lugu, berwawasan sempit, dan yang paling berbahaya, gelap mata.

Saya mengelus dada, ketika melihat berbagai tayangan di televisi mengenai eksekusi mati trio bomber Bali. Beragam komentar, beragam argumen, dan lagi-lagi polemik menyoal hal-hal yang buat saya non-sense. Yang satu melarang mereka menggunakan kata ‘mujahidin’, yang satu tidak mau kalah ‘bombastis’. Dikatakan, “mereka yang melarang kami menggunakan kata ‘mujahidin’ berarti melanggar HAM!”.

Seminggu terakhir ini melihat berita di televisi terasa melelahkan. Ya ya ya, silahkanlah kalau anda-anda mau pakai gelar pahlawan. Terserah sajalah. Bukan tidak peduli, bukan. Satu hal yang diinginkan orang awam seperti saya ini, kedamaian, itu saja.

Ya Allah, berikan negeri kami hidayahMu, luruskan pandangan kami tentang agamaMu, bersihkan pikiran dan hati kami dari kata dendam, dan suudzon, rahmati kami dengan keadilanMu, jauhkan negeri kami dari kemiskinan, dan lapangkan kami rizkiMu, Ya Allah. Sesungguhnya Engkau yang Maha Mengabulkan segala permintaan. Kabulkanlah permohonan kami. Amiin.

7 Komentar

Filed under opini saya, personal

Ingatan seorang petani

Adalah Petani yang membangun Indonesia sedemikian rupa, karena produktivitas merekalah segala macam makanan bisa terus terhidang. Yang mereka lakukan tidak ringan, sama sekali tidak. Tapi yang mereka dapat dengan beban seberat itu, sangat kecil. Jauh dari cukup. Pernah membayangkan bila kita berprofesi jadi petani di masa pasca reformasi?

Tidak, saya tidak sedang membela mantan Presiden Soeharto. Tapi apa yang beliau pernah lakukan setidaknya sedikit banyak meringankan beban para petani. Pada masanya (terutama sebelum 1984-red.), petani disubsidi sedemikian rupa, dengan dana kredit, pupuk yang bersubsidi, pengairan, pembangunan infrastruktur yang cukup, koperasi penjualan, dan lain-lain. Setidaknya kita bisa menyebut beberapa hal tersebut bila mencoba mengingat kembali masa-masa itu.

Sadarkah kita bahwa pembangunan sebuah Negara, terlebih perekonomiannya harus dimulai dari pertanian? Sadarkah anda yang tinggal di Jawa bahwa pulau ini dikenal sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi karena kesuburan tanahnya dan melimpahnya hasil pertanian? Coba kita tengok Negara kecil seperti Taiwan, dan atau Jepang yang pertaniannya bisa maju sedemikian rupa. Mereka tidak pernah lagi perlu khawatir akan keadaan perut mereka. Karena petani sejahtera, sehingga bisa berkonsentrasi pada kegiatannya. Dengan petani yang sejahtera, penduduk lain yang berprofesi bukan petani akan terpacu untuk membangun sektor lainnya.

Semua sudah seharusnya harmonis, saling mendukung, saling melengkapi. Sebagai pekerja di kota misalnya, kita tidak mungkin menafikan keberadaan petani. Biarlah mereka petani gurem, toh kegureman mereka pula yang produksinya mengisi perut kita sehari-hari. Bandingkan dengan kita yang pekerja di kota misalnya, apa yang sudah kita hasilkan untuk mereka para petani? Mungkin sama sekali tidak ada.

Pemilu, adalah siklus lima tahunan yang menyerang seperti wabah hama wereng. Seperti pada waktu-waktu sebelumnya, petani akan mendapatkan banyak pujian penuh kepentingan. Disana sini dielu-elukan. Partai A akan mengumbar janjinya pada petani. “Pupuk disubsidi kalau kami terpilih, infrastruktur akan kami bangun, ah ya, itu padi-padi hibrida akan kami kembangkan lagi. Kami ingin pertanian maju. Bung Karno saja cinta Pak Marhaen. Blaa..Blaa..Blaa..”. Partai B yang notabene saingan berat partai A tentu tidak mau kalah, “Ah, itu nanti Bapak-bapak tani kami gratiskan pupuknya ya..!! Bapak bapak butuh kerbau berapa buat mbajak sawah? Ah uhmm nanti datang saja ke kantor Partai ya, coba tulis proposal itu, nanti biar anak buah saya yang cairkan dana buat kerbaunya..”. Ya janji-janji diumbar, diobral.

Seperti barang dagangan yang dijual di supermarket masa-masa hari raya. Setelah dibeli, mungkin tanggal kadaluarsanya sudah dekat. Janji politik, yang terucap dari pedang yang dihunus para politisi pun seperti itu.

Ah, ingatan sebuah saung dipinggir beberapa petak sawah memanggil pulang.

10 Komentar

Filed under interpoleksosbud, opini saya, personal

Mengumpat

Apa rasanya menjadi supir angkot (angkutan perkotaan) di pinggiran kota Jakarta? Berat? Tentu saja. Coba bayangkan sepintasan jalan yang dilalui seorang supir dengan trayek ulujami-pondok betung (kurang lebih berjarak 8 km). Rute tersebut kurang lebih diisi oleh 3 nomor angkutan, yang masing-masing nomornya paling tidak bersaing 10-15 mobil seukuran Daihatsu colt/hi-jet. Kemudian bayangkan lagi bagaimana penuh dan ramainya jalanan berlebar kurang lebih 3 meter bila diisi juga dengan (begitu banyak) motor dan mobil pribadi yang melaluinya. Macet. Pasti.

Nah, dengan keadaan separah itu, seorang supir angkot seringkali (-maaf- sering sekali) hanya mengangkut satu-dua penumpang didalam mobilnya. Padahal setiap penumpang dengan jarak tempuh yang disebutkan diatas paling besar membayar 2000 rupiah. Bandingkan dengan biaya yang harus dibayar untuk bahan bakar dan pungli yang harus dibayar pada oknum-oknum ‘empunya’ jalan.

Tingkat kehidupan mereka boleh jadi sangat rendah. Belum lagi, ditambah umpatan-umpatan yang sering diberikan pengemudi jalan lain yang mungkin kesal karena ulah ‘ngetem’ supir angkot di sembarang badan jalan. Stressfull? Indeed.

Apa pernah teman-teman mengumpat pada supir angkot? Hah sering?! Sudah pernah jadi supir angkot teman-teman? Oh, belum? Jangan diumpat lagi ya teman-teman.

8 Komentar

Filed under Jakarta, opini saya, personal

andaikata Jakarta

Mari berandai-andai Jakarta tidak macet, jalanan selalu lengang. Hanya satu dua mobil yang ‘mewah’ dan bus yang lalu lalang. Sesekali bel sepeda yang digunakan para pekerja berbunyi, “kriing kriing..”. Pengemudi Bus membalas bel tersebut dengan ‘sapaan lembut’ seraya senyum menyungging dari bibirnya, “teet teet..”. Para pejalan kaki tampak hilir mudik. Mereka sehat, karena polusi minimal, dan trotoar nyaman. Indah, seperti kota Singapura.

Disepotong jalan, sepasang muda-mudi, pejalan kaki berteduh di kursi taman yang tersedia. Sekedar beristirahat dibawah pohon yang rindang, seraya menikmati kecap demi kecap es krim yang dihidangkan seorang tua bergerobak sepeda. Pak tua berdagang dengan penuh semangat, ya kehidupan berjalan semakin baik karena penduduk kota saling peduli satu sama lain. Tidak ada yang saling mendahului, warga kota yang tua bahkan mendapat perlakuan khusus, begitupun mereka yang perempuan. Kota begitu gentle berlaku pada warganya. Pun warga peduli pada perasaan kotanya.

Diseberang jalan, sepasang kakek dan nenek terlihat berjalan-jalan bersama cucunya. Penuh keceriaan, sesekali mereka tertawa menghibur sang cucu. Keduanya tampak bahagia karena kota yang ditinggalinya begitu nyaman, walaupun sibuk dengan berbagai kegiatan ekonomi.

Ah, ini hanya ilustrasi yang ada dikepala saya. Membayangkan sepotong jalan di Singapura menjadi bagian dari potongan-potongan jalan yang ada di Jakarta.

***

Kota mungkin begitu berperan membentuk perwatakan warganya, pun warganya berperan membentuk perasaan kota. Andai Jakarta sebagai kota punya perasaan, mungkin sudah sejak 10 tahun terakhir Jakarta penuh emosi, penuh benci, amarah. Jakarta pun berkembang menjadi kota yang panas, sesak, dan penuh kompetisi. Warganya berkompetisi satu sama lain, tanpa ada kompromi apalagi saling mendukung.

Sejak masa Sentralisasi ekonomi Orde Baru, Jakarta begitu memusatkan diri menjadi inti dari sebuah Kekaisaran Cen yang dipimpin Kaisar To. Semuanya menjadi tumpek-blek di Jakarta. Segala macam kegiatan ekonomi dengan segala macam manusianya. Dari kiai musholla sampai preman pasar kadut. Dari nenek-nenek lanjut sampe balita muda belia. Dari pekerja berdasi sampai sekedar tukang cuci. Hidup dari rumah mewah diseputaran Menteng sampai rumah kumuh dipinggir rel Jatinegara. Semuanya ada, Tumpek-blek.

Jakarta butuh perubahan yang besar. Kotanya harus dipaksa berevolusi. Bila pemerintah tidak mampu, biar warganya yang turun tangan. Lemparkan senyum pada sesama, bukan kail emosi. Tidak perlu saling mendahului, hidup terlalu berharga untuk sekedar menjadi street fighter karena rebutan badan jalan.

***

Kapan kiranya Jakarta berevolusi?

6 Komentar

Filed under Jakarta, opini saya, personal

Petani dan Organisasinya

Indonesia memiliki jumlah petani yang besar (28 juta penduduk lebih), petani juga punya posisi politik yang penting sebagai konstituen politik. Yang patut disayangkan adalah petani tidak pernah mampu menyuarakan kepentingan politiknya. Ya, sejak zaman Presiden Soeharto dulu, petani hanya berguna sebagai ‘stabilisator’ politik dalam negeri, terutama petani beras. Karena jumlah penduduk yang sedemikian besarnya di Indonesia, maka pemerintah perlu menjaga tingkat ketahanan pangan. Lantas petani sebagai produsen langsung komoditas beras, ditekan sedemikian rupa agar selalu produktif. Kasarnya posisi petani di Indonesia seperti ‘sapi perah’ pemerintah.

Memasuki masa reformasi yang juga masa dimana krisis ekonomi menyeruak, sektor pertanian menjadi ‘bumper’ bagi limpahan pekerja yang ‘terbuang’ dari sektor industri baik barang maupun jasa. Pun begitu, jasa sektor pertanian terhadap negara tidak pernah diperhatikan. Padahal, pertanian merupakan sektor ekonomi riil/mikro yang merupakan awal dari semua kondisionalitas yang dibutuhkan demi berkesinambungannya pembangunan. Banyak contoh negara lain yang membangun sektor pertaniannya dulu dan mengelolanya dengan baik hingga saat ini, sebut saja Taiwan, dan Jepang. Kedua negara tersebut berhasil memberikan kesejahteraan pada rakyatnya, karena sektor pertanian didukung penuh oleh pemerintah. Lalu muncul pertanyaan, kenapa Indonesia tidak melakukannya juga?

Indonesia, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, memperlakukan petani sekedar sebagai alat, untuk berproduksi, untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, terutama yang menggunakan beras sebagai bahan makanan pokok. Model kebijakan pertanian yang diterapkan pun top-down, yang diartikan sebagai bentuk kebijakan dengan input dari pemerintah untuk meregulasi publik di bawahnya. Padahal, di negara lain kebijakan pertanian menggunakan model bottom-up, sebuah model kebijakan yang melibatkan publiknya untuk menyumbangkan input kebijakan sehingga dapat menyalurkan/menyampaikan kepentingannya. Dengan model bottom-up maka organisasi petani/pedesaan menjadi penting untuk ada, sedang dengan model top-down, organisasi petani hanya akan diisi oleh elit pedesaan yang menguasai lahan/modal.

Dulu, pada masa kita belajar ekonomi di SD/SMP mungkin pernah mengenal KUD/BUUD (Koperasi Unit Desa/Badan Usaha Unit Desa). Diajarkan juga pada masa itu bahwa kedua organisasi tersebut ‘berperan’ dalam membangun pedesaan, dan manfaat ini-itu lainnya. Saya tidak akan menyanggah hal tersebut, juga tidak akan menyalahkan para guru ekonomi yang mengajarkannya. Permasalahannya adalah, sebenarnya KUD/BUUD tidak pernah berfungsi secara optimal sebagai sebuah organisasi petani/pedesaan. Kenapa? Karena pemerintah hanya memfungsikan Koperasi dan Badan Usaha tersebut sebagai pos untuk menempatkan para elit pedesaan yang menjadi tangan kanan pemerintah dalam menjaga stabilitas politik di daerah. Para elit sendiri pun entah sadar atau tidak menjadi alat pemerintah, yang jelas mereka senang mendapat jabatan di KUD/BUUD, karena prestige dan previledge yang mereka dapatkan di desa.

Seandainya saja, organisasi petani itu ada secara resmi dan berfungsi dengan baik, mungkin petani tidak akan menjadi ‘sapi perah’ pemerintah lagi dan pertanian kita tidak rentan lagi terhadap sekedar faktor cuaca atau hama. Karena kepentingannya tersampaikan. Karena subsidi yang jelas, mereka dapatkan. Karena teknologi pertanian bisa mereka kembangkan. Karena mereka bisa berkumpul, berorganisasi dan berteriak ketika keadilan tidak ditegakkan.

catatan : gambar diambil dari sini

3 Komentar

Filed under opini saya, personal

Arah Reformasi Sudah Benarkah?

berita selengkapnya disini

———–

Saya hanya ingin bertanya pada saudara-saudara sekalian. Menurut anda, apakah Arah Reformasi sudah benar? Atau malah kebablasan?

Buat saya pribadi, Reformasi sudah kebablasan. Dulu, reformasi didengungkan untuk membuka jalan bagi penegakan demokrasi di Indonesia. Tapi kemudian, reformasi berubah makna menjadi penegakan rezim liberalisasi pasar, rezim yang dibawa para mafia berkeley. Permasalahannya kemudian, Indonesia dengan krisis moneter yang menyerang pada 1997-1998 kelabakan dalam membangkitkan sektor perekonomian. Dan dibukalah keran hubungan yang lebih intens dengan pihak IMF dan Bank Dunia, demi membiayai negara. Akibatnya, pemerintah mendatangani LoI (Letter of Intents) dan ‘terpaksa’ mengikuti SAPs (Structural Adjustment Programs/ Paket Penyesuaian Struktural). Konsekuensi lanjutannya adalah bentuk-bentuk kebijakan persaingan, yang mengacu pada liberalisasi pasar domestik. Dan Anda lihat sendiri akibatnya? Sektor-sektor ekonomi riil yang seharusnya menjadi conditio sine qua non bagi pembangunan tidak terurus, bahkan diabaikan begitu saja. Lihat UMKM yang berbasis rumah tangga, petani miskin yang 28juta orang dipedesaan, dan banyak permasalahan lainnya.

Jadi, saya bertanya kembali pada Anda, Apakah menurut Anda, Arah Reformasi sudah benar?

3 Komentar

Filed under opini saya