Category Archives: interpoleksosbud

Ingatan seorang petani

Adalah Petani yang membangun Indonesia sedemikian rupa, karena produktivitas merekalah segala macam makanan bisa terus terhidang. Yang mereka lakukan tidak ringan, sama sekali tidak. Tapi yang mereka dapat dengan beban seberat itu, sangat kecil. Jauh dari cukup. Pernah membayangkan bila kita berprofesi jadi petani di masa pasca reformasi?

Tidak, saya tidak sedang membela mantan Presiden Soeharto. Tapi apa yang beliau pernah lakukan setidaknya sedikit banyak meringankan beban para petani. Pada masanya (terutama sebelum 1984-red.), petani disubsidi sedemikian rupa, dengan dana kredit, pupuk yang bersubsidi, pengairan, pembangunan infrastruktur yang cukup, koperasi penjualan, dan lain-lain. Setidaknya kita bisa menyebut beberapa hal tersebut bila mencoba mengingat kembali masa-masa itu.

Sadarkah kita bahwa pembangunan sebuah Negara, terlebih perekonomiannya harus dimulai dari pertanian? Sadarkah anda yang tinggal di Jawa bahwa pulau ini dikenal sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi karena kesuburan tanahnya dan melimpahnya hasil pertanian? Coba kita tengok Negara kecil seperti Taiwan, dan atau Jepang yang pertaniannya bisa maju sedemikian rupa. Mereka tidak pernah lagi perlu khawatir akan keadaan perut mereka. Karena petani sejahtera, sehingga bisa berkonsentrasi pada kegiatannya. Dengan petani yang sejahtera, penduduk lain yang berprofesi bukan petani akan terpacu untuk membangun sektor lainnya.

Semua sudah seharusnya harmonis, saling mendukung, saling melengkapi. Sebagai pekerja di kota misalnya, kita tidak mungkin menafikan keberadaan petani. Biarlah mereka petani gurem, toh kegureman mereka pula yang produksinya mengisi perut kita sehari-hari. Bandingkan dengan kita yang pekerja di kota misalnya, apa yang sudah kita hasilkan untuk mereka para petani? Mungkin sama sekali tidak ada.

Pemilu, adalah siklus lima tahunan yang menyerang seperti wabah hama wereng. Seperti pada waktu-waktu sebelumnya, petani akan mendapatkan banyak pujian penuh kepentingan. Disana sini dielu-elukan. Partai A akan mengumbar janjinya pada petani. “Pupuk disubsidi kalau kami terpilih, infrastruktur akan kami bangun, ah ya, itu padi-padi hibrida akan kami kembangkan lagi. Kami ingin pertanian maju. Bung Karno saja cinta Pak Marhaen. Blaa..Blaa..Blaa..”. Partai B yang notabene saingan berat partai A tentu tidak mau kalah, “Ah, itu nanti Bapak-bapak tani kami gratiskan pupuknya ya..!! Bapak bapak butuh kerbau berapa buat mbajak sawah? Ah uhmm nanti datang saja ke kantor Partai ya, coba tulis proposal itu, nanti biar anak buah saya yang cairkan dana buat kerbaunya..”. Ya janji-janji diumbar, diobral.

Seperti barang dagangan yang dijual di supermarket masa-masa hari raya. Setelah dibeli, mungkin tanggal kadaluarsanya sudah dekat. Janji politik, yang terucap dari pedang yang dihunus para politisi pun seperti itu.

Ah, ingatan sebuah saung dipinggir beberapa petak sawah memanggil pulang.

10 Komentar

Filed under interpoleksosbud, opini saya, personal

Wapres Kemaruk

“Isunya soal rangkap jabatan atau rangkap gaji? Kalau rangkap gaji, saya setuju (dihapuskan). Janganlah gaji sampai rangkap lima kali, tapi kalau pejabat rangkap sebagai komisaris, bisa,” kata Jusuf Kalla ketika menanggapi masalah rangkap jabatan. [berita dari sini]

Buat saya rangkap jabatan (antara jabatan pelayan publik dan pengusaha/pimpinan perusahaan) dengan rangkap gaji ya sama saja. Sama kemaruknya!

Wong, negara sedang susah kok ya minta rangkap gaji. Wong, perusahaan sudah maju kok ya masih hobby minta ‘jalan tol’. Lha trus kapan negaranya mau sejahtera? Situ bisa sejahtera Pak Kalla, itu dibawah banyak banget yang miskin, entah kapan sejahteranya.

Baru jadi Wapres udah kemaruk. Gimana jadi presiden nanti?

2 Komentar

Filed under interpoleksosbud, opini saya

Matikan saja TVnya

Televisi adalah salah satu media untuk mendapatkan informasi terkini (dalam hal ini berita). Informasi yang disalurkan pun sebaiknya berimbang dan pantas (layak) untuk ditonton. Tidak sekedar mempertontonkan hal yang berbau impian seperti dalam sinetron. Penyelenggara acara televisi sudah seharusnya memberikan informasi yang sifatnya membangun kehidupan masyarakat.

Berita, sebagai salah satu acara yang ditawarkan pemilik siaran televisi adalah gawang bagi penyebaran informasi tersebut. Berarti, informasi yang diberikan pun sudah seharusnya berimbang dan netral dari kepentingan tertentu. Kalaupun ada kepentingan, haruslah yang berkaitan dengan kepentingan bangsa, ya pembangunan kehidupan bermasyarakat tadi.

Ibarat sebuah tubuh, berita berperan dalam membangun nadi hidup bangsa. Maka ketika berita kalah rating oleh racun (sinetron dan tayangan tidak bermutu lainnya yang sekedar menjual mimpi dan merusak budaya lokal), tubuh bangsa tersebut pun perlahan akan ambruk. Tubuh bangsa akan hancur dari dalam oleh budaya yang cenderung anarkis, cenderung konsumtif, dan cenderung negatif. Itu baru oleh satu racun.

Lantas bagaimana bila berita tidak kalah oleh rating, namun berita diisi candu yang ‘menyenangkan’, ‘menenangkan’, dan ‘membuai’? Seperti yang terjadi di Indonesia. Saya merasa berita disetir oleh pemerintah. Lihat saja, TV mana yang tidak dimiliki oleh perwakilan partai atau perwakilan golongan tertentu? Sebut, Metro TV yang jelas-jelas Golkar. Masih ingat Anda bagaimana Metro TV begitu gencarnya mengkampanyekan Surya Paloh. Sebut lagi, ANTV dan TVOne yang dimiliki Grup Bakrie, yang pemimpin Grupnya tidak mengerti soal hak dan kewajiban. Sebut lagi yang lain, RCTI, TPI, Global TV yang dimiliki oleh MNC. MNC sendiri memang dikuasai oleh Global Mediacomm yang dulunya bernama Grup Bimantara (milik Bambang Tri, putra Soeharto). Ya, MNC yang hobbynya menjual mimpi, menjual budaya kebarat-baratan. Indosiar, agh. Grup Salim lagi. Sebut saja lagi yang lain, runut struktur kepemilikan mereka dan lihat siapa yang ada di pucuk pohon media tersebut. Sejak jaman sebelum reformasi, hingga hari ini. Pemain utama pasar pertelevisian adalah orang yang sama, pemilik modal besar. Yang beda, kendaraan mereka ‘agak’ baru. Itu saja.

Saya berharap banyak dari siaran-siaran berita Metro TV yang lengkap, namun lama kelamaan, terlebih mendekati pemilu pemberitaan mereka mulai condong ke pemerintah. Tidak lagi kritis. Tidak lagi membangun. Yang dibangun imej calon presiden yang maju Pemilu 2009. Yang dibangun imej para simpatisan partai. Yang dibangun kerajaan baru, yang mungkin bergerak seperti Istana Cendana. Atau jangan-jangan Istana Cendana bangkit lagi?

Ah, sudahlah.. Matikan saja TVnya.

10 Komentar

Filed under interpoleksosbud, opini saya

Anti Mental Kere dan Kebangkitan Bangsa

Pada website Antara kemarin, saya menemukan sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh Perwakilan Wilayah Muhammadiyah Semarang. Fatwa tersebut berisi larangan (diharamkannya) menerima BLT (Bantuan Langsung Tunai). Karena menerima BLT sama saja dengan bermental kere (miskin), dan dinilai menurunkan martabat bangsa. Menurut berita tersebut fatwa ini pun didukung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, H. Din Syamsuddin.

– – –

Bangsa mental kere atau tempe atau miskin, pada dasarnya dapat didefinisikan sebagai bangsa dengan mental yang lemah, tidak memiliki daya juang, lebih senang menerima daripada memberi.

– – –

Beberapa hari ini saya mengamati perkembangan implementasi Program BLT, memang belum dimulai pembagian bantuan tersebut. Ada hal yang membuat saya berdecak kagum. Dalam diskusi yang digelar salah satu televisi swasta nasional, dihadirkan Ketua Parade Nusantara (Persatuan Perangkat Desa Seluruh Indonesia), dan Deputi Menkokesra bidang Penanggulangan Kemiskinan. Apa yang menarik adalah, dalam diskusi ini Ketua Parade Nusantara tersebut dengan gamblang mengatakan bahwa sebagian besar perangkat desa di Indonesia menolak melaksanakan Program BLT. Beliau mengatakan bahwa, program BLT dapat merusak tatanan sosial yang terdapat di tingkat pedesaan. Karena kalaupun pembagian tersebut dilaksanakan, data penerima (masyarakat miskin) yang katanya ‘mutakhir’ tersebut ternyata data yang sama yang digunakan pada Program BLT sebelumnya (2005). Dan perkembangan jumlah masyarakat miskin terhitung 2005 cukup besar. Bahkan tanpa bukti statistik pun bisa dibayangkan tatanan sosial yang rusak akibat kecemburuan sosial yang timbul antara mereka yang menerima dan yang tidak menerima (karena tidak terdata).

Hal menarik lainnya adalah, dalam mensikapi Program BLT ini ada kelompok masyarakat miskin baik di perkotaan maupun pedesaan yang seharusnya ‘kebagian jatah’ menyatakan bahwa mereka lebih baik menolak ketimbang menerima bantuan tersebut. Menurut mereka, lebih baik mereka menunjukkan solidaritas sebagai bagian dari warga masyarakat.

Buat saya, dua fenomena diatas merupakan salah satu pertanda kebangkitan bangsa. Seperti kata H. Dedi Mizwar, “Bangkit itu Marah, Marah bila dilecehkan. Bangkit itu Malu, Malu bila minta melulu. Bangkit itu Tidak Ada, kata Menyerah atau Putus Asa. Bangkit itu Aku, Aku untuk Indonesiaku.”

Ada satu hal lagi yang menarik, Menkokesra Aburizal Bakrie, dalam sebuah wawancara diminta pendapatnya mengenai mereka yang menolak menerima BLT, “Masalah BLT itu hak, bukan kewajiban. Artinya, kalau hak itu boleh diambil, boleh juga tidak.”

Saya tidak habis pikir entah apa yang ada didalam pikiran yang terhormat Bapak Aburizal Bakrie. Sebagai Menkokesra seharusnya beliau tahu bahwa program BLT jelas-jelas tidak dapat menanggulangi kemiskinan, apalagi mengangkat kesejahteraan rakyat. Sebagai Menkokesra seharusnya beliau juga tahu, masalah kesejahteraan rakyat adalah kewajiban negara yang dibebankan pada beliau yang terhormat, dan bukan masalah hak atau kewajiban rakyat dalam mengambil BLT. Yang namanya hak ya harus diperjuangkan, bukan boleh diambil atau tidak. Yang namanya kewajiban ya harus dijalankan dengan BAIK, PAK!

4 Komentar

Filed under interpoleksosbud, opini saya, works

Kebangkitan Nasional memang (hanya) Sejarah Indonesia

Sinar matamu tajam namun ragu/ Kokoh sayapmu semua tahu/ Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan/
Kuat jarimu kalau mencengkeram/ Bermacam suku yang berbeda/ Bersatu dalam cengkeramanmu

Angin genit menghembus merah putihku/ Yang berkibar sedikit malu-malu/ Merah membara tertanam wibawa/ Putihmu suci penuh kharisma/ Pulau pulau yang berpencar/ Bersatu dalam kibarmu

Terbanglah garudaku/ Singkirkan kutu-kutu di sayapmu oh…/ Berkibarlah benderaku/ Singkirkan benalu di tiangmu/ Jangan ragu dan jangan malu/ Bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah membumbung tinggi/ Bangunlah putra putri pertiwi/ Mari mandi dan gosok gigi/
Setelah itu kita berjanji/ Tadi pagi esok hari atau lusa nanti

Garuda bukan burung perkutut/ Sang saka bukan sandang pembalut/ Dan coba kau dengarkan/
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut

Yang hanya berisikan harapan/ Yang hanya berisikan khayalan

Iwan Fals, Bangunlah Putra Putri Pertiwi

Hari ini ya hari ini, diperingati oleh Bangsa Indonesia sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Semua mungkin bertanya, apa yang bangkit dari bangsa kita. Tidak ada, memang. Bangsa ini punya semua hal. Sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang tidak kalah dengan bangsa lain. Apa yang kita tidak punya? Mental mungkin, untuk menjadi bangsa yang lebih besar. Dulu suatu hari, Bung Karno pernah mengingatkan,

Perjuanganku kini lebih ringan karena musuhku adalah penjajah asing, sedang perjuanganmu lebih berat karena lawanmu adalah Bangsamu sendiri.

Begitu kira-kira Bung Besar mengingatkan. Mungkin puluhan tahun yang lalu pun, beliau sudah bisa membaca bagaimana mental bangsa Indonesia. Ya inlander, terjajah, sangat communal (bila tidak mau dikata individualis). Kita tidak pernah mau belajar bermufakat, karena bermufakat melupakan golongan, dan mengingatkan harkat kebangsaan. Maka bermufakat harus dilupakan. Karena jasa teman satu kelompok mungkin lebih penting dari kewajiban atas bangsa.

Itulah Bangsa Indonesia, terima atau tidak, itu kenyataannya.

Kita punya kewajiban untuk Bangsa Indonesia. Kita semua punya. Taruhlah, 10 tahun yang lalu, ketika reformasi tiba-tiba bangkit di negara ini, sebagai momentum kebangkitan yang kedua. Ya, reformasi yang kemudian dimaknai dengan salah. Reformasi dimaknai sebagai lepasnya sebuah bangsa dari bui sentralisme pemerintahan. Kemudian kebebasan dimaknai bukan dalam perspektif demokrasi, tapi lebih pada liberalisme.

Demokratis, Indonesia demokratis, patut dicontoh. Itu yang selalu digaungkan oleh pemimpin negara-negara maju untuk mendukung proses ‘liberalisasi’ negara ini. Padahal, pelan-pelan secara ekonomi maupun sosial budaya, kita jadi lebih liberal, lebih terbuka, lebih nerimo! Lihat contoh kecil saja, semua merasa punya hak untuk kebebasan bertindak, memang semua manusia punya, tetapi kadang kebebasan tersebut melanggar hak orang lain.

—–

Sebagai sebuah Negara, kita kaya akan sumber daya alam, semuanya sangat layak untuk dijadikan komoditas perdagangan. Gas alam, kelapa sawit, minyak mentah, beras, gula, perikanan,  peternakan, kayu-kayuan, semuanya bahkan pasir putih sekalipun. Lalu apa masalahnya?

Dengan berlakunya liberalisasi di negara ini, maka peran pemerintah akan terpotong habis dalam mengatur sektor publik. Sektor swasta vis-a-vis sektor publik. Maka komoditas yang begitu banyak dan besarnya di negara ini, dapat dikuasai oleh sektor swasta, sebagai pengelola. Berarti kuasa modal berbicara. Siapa punya modal kuat, dia jadi penguasa. Maka konglomerasi kembali berkuasa. Semua komoditas dijual bebas. Tata niaga pengelolaan komoditas bangsa menjadi urusan para konglomerat atau investor asing (pemilik modal). KIta sebagai sebuah bangsa hanya bisa melongo. Tidak kebagian jatah padahal milik sendiri. Inlander, memang inlander.

—–

Kalau kita mau, kalau saja mau. Kita punya banyak komoditas, saudara tau itu. Nasionalisasi penguasaannya! Aset bukan untuk dijual, apalagi ketika menguntungkan!

Kita penghasil minyak bumi, masa’ harus ikut kena krisis minyak dunia? Kita penghasil batubara, masa’ listrik rumah sering kena pemadaman sementara? Kita penghasil minyak sawit, masa’ rakyatnya beli minyak goreng susah? Kita penghasil semua bahan mentah dan bahan pokok, masa’ rakyatnya susah? Mana pemerintahnya? Sibuk dagang?! Inlander!

_____

Saudara tau siapa Bosnya Inlander ? Itu IMF dan Mafia Berkeley. IMF punya resep liberalisasi, mafia berkeley manggut-manggut setuju. Semua tau, IMF itu hanya mengatur keuangan, finansial, moneter, ekonomi makro. Lha kok diatur manggut-manggut aja. Gak punya harga diri. Bangsa sendiri kok ya dijual.

Sektor riil, ekonomi mikro, itu yang paling penting buat membangun bangsa ini, tentu dengan azas pemerataan, bukan azas pertumbuhan saja. Tumbuh pasti tumbuh, tapi siapa yang tumbuh? Si A, si B, si C yang punya modal. Lantas mau dikemanakan rakyat kecil yang tidak punya modal, tidak punya keahlian. Lha pendidikan aja gak diurus, dianggap beban anggaran.

Rakyat perlu diberdayakan, tapi sebelum itu rakyat perlu dibebaskan, di-mer-de-ka-kan. Dengan pendidikan! Itu namanya antisipasi. Apa mau rakyatnya jadi gembel, wong KTP gak punya saja lantas ditangkap satpol PP. Apa mau rakyatnya jadi PKL semua, wong baru dagang sebentar saja sudah dianggap mengganggu keindahan lingkungan.

—-

Ah, Kebangkitan Nasional!

Pemerintah gembar gembor pasang banner, spanduk, iklan, “100 Tahun Kebangkitan Nasional  :  Indonesia Bisa!”. Bisa apa? Mabok keadaan. Yang dikampanyekan omong kosong, yang tukang kampanye omong doang.

—-

Bantuan Langsung Tunai, opo kuwi? Seratus ribu, minyak goreng, dan gula. pak Bupati Sragen saja tidak mau melaksanakannya. Sudah tidak efektif, memicu konflik horizontal pula!

—–

Kebangkitan Nasional mungkin memang hanya ada dibuku sejarah.

3 Komentar

Filed under interpoleksosbud, opini saya, personal, works

Kata Pak Habibie

hmm.. beberapa hari yang lalu dalam sebuah acara yang ditayangkan di metro tv, Bpk. B.J. Habibie  menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia, ada beberapa poin yang saya catat :

1. Berhenti berpolemik dengan satu masalah dan terjebak didalamnya

2. Tingkatkan anggaran pendidikan, Pak Habibie bilang, “Itu semua anak-anak harus dapat pendidikan, semua yang mau sekolah, harus digratiskan sekolahnya, tanpa pendidikan manusia tidak akan merdeka, tanpa merdeka, mereka tidak akan survive untuk membangun bangsa, kemerdekaan itu ada pada pendidikan.”

3. Gratiskan biaya kesehatan.. (saya lupa dia bilang apa lengkapnya)

4. Serahkan itu harga BBM kepada pasar saja, kalo yang mengelola harga pemerintah, terlalu banyak berpolemik nantinya.. (Dalam acara itu nampaknya banyak yang salah tangkap dengan poin ini). Dengan harga BBM yang sudah setara dengan harga pasar dunia, maka Public Transport (PT) harus didukung sama perkembangan teknologi, jangan gunakan PT yang menghabiskan energi migas, teknologi kan bisa dikembangkan bila pendidikan bangsa kita baik..

5. Dari semuanya, yang paling penting lakukan persiapan dulu, dukung dengan UU yang melindungi kesemua poin tadi. jangan lupa juga, dalam masa globalisasi seperti ini, negara-negara yang sedang membangun, seperti China, dan India, mereka kan mengkonsumsi banyak sumber daya, lepaskan ketergantungan kita pada negara-negara itu. (Saya menangkap poin ini sebagai lepaskan diri dari ketergantungan terhadap hutang melalui IMF misalnya, karena dibelakang IMF ada negara-negara yang pendonor yang merusak melalui mekanisme SAPs (Structural Adjustment Programs), dll)

Berpolemik

apa si sebenernya arti kata ‘polemik’, hmm..menurut wikipedia, polemik adalah sejenis diskusi atau perdebatan sengit yang diadakan di tempat umum atau media massa berbentuk tulisan. Polemik biasa digunakan untuk menyangkal atau mendukung suatu pandangan agama atau politik. Saya memaknai ucapan pak Habibie dengan “Ayo to kita punya bangsa yang besar, gemah ripah loh jinawi, jangan banyakan ributnya (baca: berpolemik), daripada kerjanya.”. Berita terbaru yang saya tonton barusan di metro tv, Priyo Budi Santoso (Fraksi PG DPR) malah berpolemik dengan mengatakan bahwa, “Pak Amien harus meminta maaf pada Pak JK karena memanggilnya dengan nama Jusuf Kollo (mungkin maksudnya Betara Kollo (Dewa Perusak)).” Saya kok malah gumun. Ini anggota DPR apa ya gak ada kerjaan lain ya, wong pak JK aja santai-santai aja..

Anggaran Pendidikan

Freire pernah mengajarkan satu hal yang besar relevansinya dengan konteks keindonesiaan, bahwa pendidikan itu membebaskan. Dengan pendidikan kebudayaan ‘bisu’ dapat dihapuskan, karena Indonesia cukup lama ‘bisu’ dibawah otoriterisme Orde baru. Model pendidikan di Indonesia adalah model ‘gaya bank’, sedang model yang ditawarkan Freire adalah model ‘hadap masalah’. Apa bedanya, model ‘gaya bank’ tidak mengajarkan pada manusia akan pilihan-pilihan yang bisa diambil, ‘disuapi’, sederhananya. Misalnya, Guru paling pintar, murid tidak tahu apa-apa; Guru mengajar, murid belajar dan menerimanya begitu saja, intinya sistem ini tidak membentuk sikap skeptis dan kritis pada murid. Sedangkan model ‘hadap masalah’, merupakan model yang mengajarkan manusia untuk melakukan pemilihan terhadap sebuah tindakan, dengan begitu, murid dapat terbiasa memilih apa yang baik menurutnya disesuaikan dengan minatnya, sehingga bisa menjiwai apa yang dipelajari.

Dalam konteks keindonesiaan, Anggaran Pendidikan kita yang sekitar Rp64,4 trilun (12 persen dari APBN), jelas tidak akan mampu menyediakan pendidikan yang layak bagi masyarakat. Apalagi yang membebaskan. Lha semuanya diproyekkan, akibatnya pasti ada juga di’komisi’kannya,..

Biaya kesehatan

Ini poin yang paling mbelgedes! Sakit di Indonesia tu mahalnya biayanya, Ya alloh..

Perhubungan

Di Inggris aja, udah ada mobil dengan batre, dicolok ke charger listrik yang ada di sudut-sudut trotoar jalan.. Kapan kita seperti itu? hmm.. Public transport yang penting, liat deh di jakarta ato di jogja aja deh yang deket, Bus Transjogja yang menurut saya lumayan bagus aja, belum cukup untuk mengontrol tingkat traffic di kota ini. Kendaraan bermotor makin banyak aja, saya yakin banyak yang masih kredit, orang mau kredit motor pake 500ribu puls KTP aja udah bisa skrg.

Persiapan

Ah, pejabat kita mana sempat nglakuin persiapan.. sibuk mereka dengan segala macam kepentingan pribadi atau partai..

4 Komentar

Filed under interpoleksosbud, opini saya

Demonstrasi Mahasiswa masihkah didengarkan

Seorang anak kecil bertubuh degil/Tertidur berbantal sebelah lengan/Berselimut debu jalanan/Rindang pohon jalan menunggu rela/Kawan setia sehabis bekerja/Siang di seberang sebuah istana/Siang di seberang istana sang raja/Kotak semir mungil dan sama dekil/Benteng rapuh dari lapar memanggil/Gardu dan mata para penjaga/Saksi nyata… yang sudah terbiasa/Tamu negara tampak terpesona/Mengelus dada gelengkan kepala/Saksikan perbedaaan yang ada/Sombong melangkah istana yang megah/Seakan meludah di atas tubuh yang resah/Ribuan jerit di depan hidungmu/Namun yang ku tau…. tak terasa terganggu/Gema azan ashar sentuh telinga/Buyarkan mimpi si kecil siang tadi/Dia berjalan malas melangkahkan kaki/Di raihnya mimpi di genggam tak di letakkan… lagi

Iwan Fals, Siang di Seberang Sebuah Istana

Saya mengingat lirik sebuah lagu dari bang Iwan diatas, kalo melihat keadaan negeri ini. Yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin. Yang menjabat semakin jumawa, yang rakyat makin gak didengar. Seminggu terakhir di kampus saya mendengar akan dilakukan demo besar-besaran untuk mengingatkan pemerintah tentang reformasi 98. Demo tersebut rencananya dilakukan hari ini. Akhirnya hari ini demo pun terjadi. Front Rakyat Menggugat dan BEM SI (Badan Eksekutif Mahasiswa dari 20an universitas di Jawa dan Sumatra) hingga saat ini berdemonstrasi di depan Istana Negara. Apa yang mereka tuntut :

TUGU RAKYAT (TUJUH GUGATAN RAKYAT)

  1. Nasionalisasi aset strategis bangsa.
  2. Wujudkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau, dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia.
  3. Tuntaskan kasus BLBI & korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya sebagai perwujudan kepastian hukum di Indonesia.
  4. Kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi dan energi.
  5. Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat.
  6. Tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan.
  7. Selamatkan lingkungan Indonesia dan tuntu Lapindo Brantas untuk mengganti rugi seluruh dampak dari lumpur Lapindo.

press release mengenai hal ini ada disini.

Rekan-rekan dari BEM SI menyatakan bahwa mereka tidak akan bergerak dari depan istana negara jika Presiden SBY tidak mau menandatangani surat pernyataan akan memenuhi tugu rakyat tersebut. Masalahnya adalah hari ini Presiden SBY tidak sedang berada di Istana. Beliau sedang melakukan kunjungan ke sejumlah daerah. hehe. bisa aja si bapak. 😀

Apakah kemudian tuntutan mahasiswa akan dipenuhi? saya sendiri tidak tahu. Dari berita yang dirilis SCTV dan Metro Tv beberapa saat yang lalu, demo masih terjadi dan akan bertahan.

Saya takut, hari ini akan terjadi bencana seperti yang dialami para mahasiswa demostran 10 tahun yang lalu. Tindakan represif dari aparat yang menjaga sangat mungkin terjadi, karena demonstrasi hanya boleh dilakukan sampai sebelum maghrib. That means after 6 pm, the legal demonstration would be illegal.

Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan/ Kepada rakyat yang kebingungan di persimpangan jalan/Kepada pewaris peradaban yang telah menggoreskan/Sebuah catatan kebanggaan dilembar sejarah manusia/Wahai kalian yang rindu kemenangan/Wahai kalian yang turun ke jalan/Demi mempersembahkan jiwa dan raga/Untuk negeri tercinta (Mars Perjuangan Mahasiswa)

Nyanyikan dengan keras dan lantang. Kepalkan tangan kirimu ke atas, kepalkan tangan kanan di depan jantung. Hidup mahasiswa Indonesia! oh, I miss the good old times . . .

to Pak SBY : Pak, dengarkan anak bangsamu berteriak karena kebijakanmu yang tidak bijak pak! please. . .

Tinggalkan komentar

Filed under interpoleksosbud, opini saya, personal