Mengumpat

Apa rasanya menjadi supir angkot (angkutan perkotaan) di pinggiran kota Jakarta? Berat? Tentu saja. Coba bayangkan sepintasan jalan yang dilalui seorang supir dengan trayek ulujami-pondok betung (kurang lebih berjarak 8 km). Rute tersebut kurang lebih diisi oleh 3 nomor angkutan, yang masing-masing nomornya paling tidak bersaing 10-15 mobil seukuran Daihatsu colt/hi-jet. Kemudian bayangkan lagi bagaimana penuh dan ramainya jalanan berlebar kurang lebih 3 meter bila diisi juga dengan (begitu banyak) motor dan mobil pribadi yang melaluinya. Macet. Pasti.

Nah, dengan keadaan separah itu, seorang supir angkot seringkali (-maaf- sering sekali) hanya mengangkut satu-dua penumpang didalam mobilnya. Padahal setiap penumpang dengan jarak tempuh yang disebutkan diatas paling besar membayar 2000 rupiah. Bandingkan dengan biaya yang harus dibayar untuk bahan bakar dan pungli yang harus dibayar pada oknum-oknum ‘empunya’ jalan.

Tingkat kehidupan mereka boleh jadi sangat rendah. Belum lagi, ditambah umpatan-umpatan yang sering diberikan pengemudi jalan lain yang mungkin kesal karena ulah ‘ngetem’ supir angkot di sembarang badan jalan. Stressfull? Indeed.

Apa pernah teman-teman mengumpat pada supir angkot? Hah sering?! Sudah pernah jadi supir angkot teman-teman? Oh, belum? Jangan diumpat lagi ya teman-teman.

8 Komentar

Filed under Jakarta, opini saya, personal

8 responses to “Mengumpat

  1. wah…
    aku kemaren sore ngumpat “senengnya kok seenaknya sendiri” ke supir M 75 gara2 dia ga brenti2 pas aku tereak kiri, kiri.😐

  2. baiklah kakak, saya tidak akan ngumpat lagi….:mrgreen:
    ice cream domz, kak, yang vanilla yak!😛

    iya nanti dibelikan ya dik ya, sudah sana main lagi yaa…

  3. zam

    jangan ke jakarta kalo ndak berani MENGUMPAT!!

    jakarta = umpatan

  4. baiklah…, walopun saya juga sering nyaris ditabrak angkot pas naik sepeda…

    wah klo nyaris ditabrak, jgn diumpat kang dod, copot helm , ketok aja pake helm..hehehe..

  5. aku mengumpat (pada diriku sendiri karena kebodohanku) karena aku salah naik angkot dengan jurusan yang bukan seharusnya aku naiki..

  6. Ya … saya tak akn mengumpat lagi mereka …. cucuran keringat mereka sangat pilu rasanya jika hanya untuk di umpati …

  7. Zen

    Kalo aku justru pernah diumpat gara-gara naik sepeda berjejer di jalan, hwakaka…..

  8. dulu saya sering mengumpat mereka, sekarang udah jarang banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s