dikejutkan Kematian

Tidak pernah terbayangkan sedikit pun dalam benak, ketika tiba-tiba saja seorang teman tarawih di musholla bertanya,

Emang lo yakin cing bsok lo masih idup?

Dalam sekejap, bulu kuduk saya merinding dan pikiran melayang tanpa arah. Membayangkan kematian yang menyergap, pelan-pelan tubuh meregang nyawa. Dari ujung ibu jari kaki, trus merayap ke samping, ke jari yang lain. Ada rasa merinding, seolah dikerubung semut api yang maha banyak. Selesai dengan jari yang kemudian beku membiru kaku, merambat naik ke mata kaki, semut-semut naik, seolah merumputi pangkal tulang kering. Lutut, lutut bergetar, seolah tidak ikhlas untuk disergap, seolah tidak pernah merasa berbuat kejahatan. Tubuh berguncang kencang. Nyawa meregang namun berontak. “Aku masih ingin hidup di bumi!!!” ,teriak batin yang sesak.

Ingatan, seperti sebuah labirin misteri melayang-layang jauh, pada kenangan-kenangan manis dan pahit. Air mata mendadak seperti rentetan peluru tentara yang kalut di medan perang. Berdesing tanpa arah. Entah karena diserang kesedihan atau tawa. Entah didera cinta atau menumpuk dendam. Ingatan kembali melayang-layang, pada sebuah akhir. Tentang hari pertama di dunia, harapan ayah dan bunda sesaat anak keluar dari rahim. Teringat nama pemberian, yang seperti mantra, diucap berulang-ulang, agar harapan tidak sekedar seperti angin berkelebatan. Nama itu harapan nak, seperti diucap sepotong memori yang memanggil.

Semua sudah terlambat, satu tarikan lagi kearah pangkal tenggorokan. Sayup-sayup terdengar, potongan-potongan kalimat taubat. “As..taaaggh..fii..ruuu..llaaahh..”. “Laaa..iilaaaa..haa..illlaa..alllaahh”. Lidah yang biasanya tajam, mendadak kelu. Bibir bergerak miring-miring, seolah ditarik-tarik kail Izrail. Suara-suara yang tadi sayup terdengar semakin kencang. “Alllaaaahuu Akkbaaaar…Astaghfirulllaaaah..”. “Laaaa ilaaa ha illaAllaaah…”. Sayup sayup suara itu menghilang dan hening. Gelap dan senyap.

———-

Kematian menyergap begitu cepat dan aku teringat potongan-potongan sakratul maut sahabat-sahabat dalam hidupku. Menangisi fragmen-fragmen hidup yang sudah lewat, rasanya tidak lagi berguna. Karena pada penyesalan yang datang kemudian tersisa sebuah tanya, tentang untuk apa Dia menciptakan manusia?

Sudah pernah melihat akhir hidup manusia, teman-teman?

*gambar diambil dari sini

4 Komentar

Filed under personal

4 responses to “dikejutkan Kematian

  1. saat refleksi menjadi elegi
    kita hanya mampu menyesali diri

  2. habis lutut kok langsung pangkal tenggorokan? hihi
    *Astaghfirulllaaaah*

  3. ga usah nunggu besok, wong 1-5 menit ke depan aja misteri😀

  4. zam

    aku pernah liat kucing yg meregang nyawa setelah tertabrak motor, padahal ia barusan sedang bermain-main..

    merinding..

    kita tak pernah tau kapan kita meninggal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s