andaikata Jakarta

Mari berandai-andai Jakarta tidak macet, jalanan selalu lengang. Hanya satu dua mobil yang ‘mewah’ dan bus yang lalu lalang. Sesekali bel sepeda yang digunakan para pekerja berbunyi, “kriing kriing..”. Pengemudi Bus membalas bel tersebut dengan ‘sapaan lembut’ seraya senyum menyungging dari bibirnya, “teet teet..”. Para pejalan kaki tampak hilir mudik. Mereka sehat, karena polusi minimal, dan trotoar nyaman. Indah, seperti kota Singapura.

Disepotong jalan, sepasang muda-mudi, pejalan kaki berteduh di kursi taman yang tersedia. Sekedar beristirahat dibawah pohon yang rindang, seraya menikmati kecap demi kecap es krim yang dihidangkan seorang tua bergerobak sepeda. Pak tua berdagang dengan penuh semangat, ya kehidupan berjalan semakin baik karena penduduk kota saling peduli satu sama lain. Tidak ada yang saling mendahului, warga kota yang tua bahkan mendapat perlakuan khusus, begitupun mereka yang perempuan. Kota begitu gentle berlaku pada warganya. Pun warga peduli pada perasaan kotanya.

Diseberang jalan, sepasang kakek dan nenek terlihat berjalan-jalan bersama cucunya. Penuh keceriaan, sesekali mereka tertawa menghibur sang cucu. Keduanya tampak bahagia karena kota yang ditinggalinya begitu nyaman, walaupun sibuk dengan berbagai kegiatan ekonomi.

Ah, ini hanya ilustrasi yang ada dikepala saya. Membayangkan sepotong jalan di Singapura menjadi bagian dari potongan-potongan jalan yang ada di Jakarta.

***

Kota mungkin begitu berperan membentuk perwatakan warganya, pun warganya berperan membentuk perasaan kota. Andai Jakarta sebagai kota punya perasaan, mungkin sudah sejak 10 tahun terakhir Jakarta penuh emosi, penuh benci, amarah. Jakarta pun berkembang menjadi kota yang panas, sesak, dan penuh kompetisi. Warganya berkompetisi satu sama lain, tanpa ada kompromi apalagi saling mendukung.

Sejak masa Sentralisasi ekonomi Orde Baru, Jakarta begitu memusatkan diri menjadi inti dari sebuah Kekaisaran Cen yang dipimpin Kaisar To. Semuanya menjadi tumpek-blek di Jakarta. Segala macam kegiatan ekonomi dengan segala macam manusianya. Dari kiai musholla sampai preman pasar kadut. Dari nenek-nenek lanjut sampe balita muda belia. Dari pekerja berdasi sampai sekedar tukang cuci. Hidup dari rumah mewah diseputaran Menteng sampai rumah kumuh dipinggir rel Jatinegara. Semuanya ada, Tumpek-blek.

Jakarta butuh perubahan yang besar. Kotanya harus dipaksa berevolusi. Bila pemerintah tidak mampu, biar warganya yang turun tangan. Lemparkan senyum pada sesama, bukan kail emosi. Tidak perlu saling mendahului, hidup terlalu berharga untuk sekedar menjadi street fighter karena rebutan badan jalan.

***

Kapan kiranya Jakarta berevolusi?

6 Komentar

Filed under Jakarta, opini saya, personal

6 responses to “andaikata Jakarta

  1. wah itu juga yang sering kutanyakan? kapan kiranya jakarta jadi kota yang lebih sedikit compansionate:D
    salam kenal yaaa…

  2. ketika para warganya sudah lelah dengan kekerasan yang menjadi teman setia dan tidak lagi mendarah daging..

  3. taun kemaren aku ngalami sepinya jakarta.. soalnya pas aku lagi lebaran di jakarta.. dan… ternyata enak juga kalo jakarta sepi, dalam artian ndak seramai biasanya.. :d

  4. makanya saya hijrah dari jakarta, mas…

    hehehehe….

  5. Bisa saja hal itu terjadi dit , tp dengan syarat ibukota indonesia pindah ke gunung kidul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s