Personal Labeling

Di lingkungan kampus saya terkenallah seorang Profesor yang cukup disegani oleh setiap mahasiswa. Prof. ****, begitu saya biasa memanggilnya. Saya termasuk mahasiswa yang jarang bertemu dengan beliau, karena hanya beberapa Mata Kuliah yang saya ambil yang beliau ampu. Pun, dalam Mata Kuliah tersebut saya tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan nilai yang memuaskan. Bukan pamer, tapi hal tersebut memang patut saya syukuri.

Bagi, sebagian besar mahasiswa di kampus saya, beliau sosok yang angker dan angkuh. Namun bagi saya yang harus menghadapinya selama pengerjaan skripsi, beliau menjadi sosok guru yang memang patut saya teladani. Selama berhadapan dengan beliau ada beberapa hal yang menarik buat saya :

Penghormatan untuk strata akademis seseorang, Beliau paling senang dipanggil dengan sebutan Prof.. Buat saya, beliau memang layak dipanggil seperti itu. Kenapa? karena dari segi akademis beliau memang sudah mendapat gelar tersebut, dan dijalankan tidak dengan main-main. Bayangkan betapa sulitnya melakukan studi di AS dan menelurkan disertasi berjudul ‘Peranan Organisasi Pedesaan Dalam Pembangunan : Indonesia vis-a-vis Taiwan, Thailand dan Filipina’. Selain itu, beliau jelas seorang nasionalis yang berpihak pada rakyat, dengan panjang lebar menjelaskan ke saya, bahwa kesalahan dalam pertanian adalah akibat dari pemerintah Orde Baru yang memandulkan para petani dengan bentuk kebijakan yang tidak pro-petani, dengan segala penjelasan lainnya yang mengikuti. Saya rasa tidak ada salahnya memanggil beliau Prof., walaupun memang tidak harus dilakukan. Tapi kompetensi keilmuan beliau, memang layak dihormati dan disegani.

Kejujuran, dengan jujur beliau meminta saya membawakan beberapa buku dan melakukan beberapa hal. Ya, keberanian untuk jujur, bisa diartikan sebagai blak-blakan, namun dilakukan dengan santun. Saya sebagai orang yang juga tertarik dengan masalah politik pertanian Indonesia, sangat senang membantu beliau. Beberapa hari yang lalu, beliau meminta saya membawakan buku yang saya miliki yang terkait pertanian dan ilmu politik. Beberapa buku harus saya cari dengan berkeliling ke setiap toko dan kios buku di seluruh jogja. Buku itu ditemukan, dan akhirnya saya berikan pada beliau. Dan tebak apa yang beliau katakan pada saya, “Terimakasih..”, sebuah kata yang pasti sulit diucapkan oleh seorang Profesor kepada mahasiswanya yang belum tau apa-apa ini.

Kebapakan, suatu kali beliau meminta saya untuk mengantrikan tiket kereta api untuk anakdan istrinya berlibur ke Cirebon. Suatu hal yang gagal saya lakukan. Tiket yang dicari tidak dapat dibeli, karena memang habis di semua loket KA, baik dari Jogja-Jakarta, maupun sebaliknya. Ah, maaf Prof. ****, saya tidak dapat memenuhi permintaan ini pak. Saya tau bapak hanya ingin menyenangkan anak-istri bapak dengan membelikan tiket berlibur ke Cirebon. Tahu apa yang beliau katakan seketika saya mengantar kembali uang tiet ke rumah beliau?

Pak Prof. : Ngopo kowe kok ngantek menggeh menggeh koyo ngono? *sambil tertawa*

Saya : Mboten nopo-nopo Prof., nganu.. saya .. gak bisa dapet tiket yang Prof. pesan tadi..

Pak Prof. : Hoalah, yasudah, ndak apa-apa dit.. *sembari tersenyum* Tiketnya habis semua ya?

Saya : Iya Prof., semua tiket dari dan ke Jakarta sudah habis ludes des. Antrinya juga panjang sekali Prof.,

Pak Prof. : Yaa, namanya juga musim liburan dit, yasudah ndak papa, saya juga sedang mengoreksi banyak paper dan skripsi ini.

Saya : Baiklah Prof. kalau begitu, sekali lagi saya minta maaf Prof. gak bisa dapat tiketnya.

Pak Prof. : Sudah sudah tidak apa apa. Oia, besok konsultasinya di rumah saya saja ya..

Saya : Baik, Prof. ….. Permisi.. Assalamu’alaikum…

See, he’s a gentlemen.

Sore ini saya akan bertandang ke rumah beliau untuk meminta acc, mudah-mudahan ini revisi terakhir. Do’akan.

———–

Don’t judge a person before you know what the person really is. Long before I know this Professor, I use to follow the mainstream-opinion about him. The label that people give to him was not appropriate, too judging. He’s not the bad guy, we the judger was. Even if he has some ‘minus’, I don’t think he deserve to be judged. Well, thanks Prof. for teaching me life lessons.🙂

10 Komentar

Filed under personal

10 responses to “Personal Labeling

  1. Aw, ini kah profesor yang kausebut dalam profil wiki CA? aw aw aw…

  2. habis melihat lebih dekat…?

  3. jadi namanya prof ****?😆
    errr… kalo sudah diedit, ntar yg di sini dikasih bintang2 jua ya, bro!😆

    *SUDAH SAYA EDIT..errrr..😆

  4. hanny

    tak kenal maka tak sayang, kan?😀 gimana? sudah revisi terakhir, jadinya?

  5. suatu usaha dan contoh yg bagus dari seseorang yg menginginkan sekeripsinya lancar.
    (patut dicoba tips-triknya sama orang-orang yg mau/belum/sedang mengerjakan sekeripsi)

    .::he509x™::.

  6. @ all : mudah-mudahan cerita saya memberi pengampunan untuk pak prof.
    @ anton : opo nton?
    @ ngodod : alhamdulillah, cara pandang saya sudah lebih objektif kang..
    @ goop : ealah luuupuut bro!
    @ hanny : beres bu!
    @ manongan : situ nyela teman-teman saya yg belum beres berarti kang?! hehe

  7. maud ipek mantu mungkin kamu sep. . jadi dibaik2 in

  8. prof yang saya kenal semuanya ramah-ramah dan sangat rendah hati😀

  9. restlessangel

    wah kalo di psiko, dosen2 yg udah gelar PhD aja masih betah dipanggil mahasiswa2nya ‘mas’ ato ‘mbak’ ^^

    eh rumahnya di daerah gejayan, deket sama mana itu, halah kok lupa, pokoke mbelok jembatan merah ya… ;))

  10. @ memed : kok njenengan ngerti omahe mbakyu? hehehehe.. ssssttt…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s