Matikan saja TVnya

Televisi adalah salah satu media untuk mendapatkan informasi terkini (dalam hal ini berita). Informasi yang disalurkan pun sebaiknya berimbang dan pantas (layak) untuk ditonton. Tidak sekedar mempertontonkan hal yang berbau impian seperti dalam sinetron. Penyelenggara acara televisi sudah seharusnya memberikan informasi yang sifatnya membangun kehidupan masyarakat.

Berita, sebagai salah satu acara yang ditawarkan pemilik siaran televisi adalah gawang bagi penyebaran informasi tersebut. Berarti, informasi yang diberikan pun sudah seharusnya berimbang dan netral dari kepentingan tertentu. Kalaupun ada kepentingan, haruslah yang berkaitan dengan kepentingan bangsa, ya pembangunan kehidupan bermasyarakat tadi.

Ibarat sebuah tubuh, berita berperan dalam membangun nadi hidup bangsa. Maka ketika berita kalah rating oleh racun (sinetron dan tayangan tidak bermutu lainnya yang sekedar menjual mimpi dan merusak budaya lokal), tubuh bangsa tersebut pun perlahan akan ambruk. Tubuh bangsa akan hancur dari dalam oleh budaya yang cenderung anarkis, cenderung konsumtif, dan cenderung negatif. Itu baru oleh satu racun.

Lantas bagaimana bila berita tidak kalah oleh rating, namun berita diisi candu yang ‘menyenangkan’, ‘menenangkan’, dan ‘membuai’? Seperti yang terjadi di Indonesia. Saya merasa berita disetir oleh pemerintah. Lihat saja, TV mana yang tidak dimiliki oleh perwakilan partai atau perwakilan golongan tertentu? Sebut, Metro TV yang jelas-jelas Golkar. Masih ingat Anda bagaimana Metro TV begitu gencarnya mengkampanyekan Surya Paloh. Sebut lagi, ANTV dan TVOne yang dimiliki Grup Bakrie, yang pemimpin Grupnya tidak mengerti soal hak dan kewajiban. Sebut lagi yang lain, RCTI, TPI, Global TV yang dimiliki oleh MNC. MNC sendiri memang dikuasai oleh Global Mediacomm yang dulunya bernama Grup Bimantara (milik Bambang Tri, putra Soeharto). Ya, MNC yang hobbynya menjual mimpi, menjual budaya kebarat-baratan. Indosiar, agh. Grup Salim lagi. Sebut saja lagi yang lain, runut struktur kepemilikan mereka dan lihat siapa yang ada di pucuk pohon media tersebut. Sejak jaman sebelum reformasi, hingga hari ini. Pemain utama pasar pertelevisian adalah orang yang sama, pemilik modal besar. Yang beda, kendaraan mereka ‘agak’ baru. Itu saja.

Saya berharap banyak dari siaran-siaran berita Metro TV yang lengkap, namun lama kelamaan, terlebih mendekati pemilu pemberitaan mereka mulai condong ke pemerintah. Tidak lagi kritis. Tidak lagi membangun. Yang dibangun imej calon presiden yang maju Pemilu 2009. Yang dibangun imej para simpatisan partai. Yang dibangun kerajaan baru, yang mungkin bergerak seperti Istana Cendana. Atau jangan-jangan Istana Cendana bangkit lagi?

Ah, sudahlah.. Matikan saja TVnya.

10 Komentar

Filed under interpoleksosbud, opini saya

10 responses to “Matikan saja TVnya

  1. adhi

    Setidaknya, kita berdoa saja demi kebaikan di negeri ini…

  2. GILE kategori-nya interpoleksosbud tanpa hankamnas hahaha. iya bulan depan balik jogja, yuk sepedaan malam-malam seru kayanya

  3. yupe bro, bener banget mulai tidak imbang pemberitaan yang ada. di tv one malah ada acara debat yang sepertinya mengudarakan kebencian😦
    kalau matikan tv-nya ngapain dong? eh, kan ada euro juga bro?😛

  4. @goop : itulah kang, masalahnya saya gak terlalu suka nonton euro.. hehehe…
    jadi ya, matikan saja televisinya..!

  5. klo gitu nonton kuis sesudah euro aja… magdalena oke tuh

  6. ira

    matiin TV? ya boleh lah sekalian menghemat energi sesuai anjuran pak SBY.

  7. eh dul,..
    framing media itu keniscayaan…
    ga cuma tv, media surat kabar pun begitu

    permasalahannya, haya soal seberapa berimbang dalam komunikasi saja,..
    klo itu sudah ga,.. ya bakar saja korannya
    hahaha

  8. cK

    matikan saja tipinya. biar mengaduh sampai gaduh…

    *kalem*

  9. jadwal nonton tipi:
    1. siaran sepakbola
    2. siaran moto gp
    3. siaran f1
    4. siaran berita
    5. siaran acara2 lucu

    sinetron = kalo lagi pengen….. banget. itu bisa sebulan sekali.

  10. rocky

    langganan astro wae kang, opo tipi – tipi bule kae, lebih mendidik,lebih variatip, tapi sakjane yo podo wae… politik media, ahaha..(opo lucu ne?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s