Terjebak dalam Kemiskinan

Kemiskinan memang selalu menjadi masalah di negara ini. Sejak jaman penjajahan Belanda hingga hari ini tidak ada yang berubah dengan kenyataan ini. Kemiskinan bertumbuh seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Penduduk yang miskin terus bertambah karena terjebak dalam situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk maju. Satu-satunya yang sangat mungkin membantu adalah keinginan dari diri mereka sendiri untuk merubah keadaan yang mungkin selama ini menjebak dengan merebut kembali hak mereka atas pendidikan. Dengan pendidikan, maka mereka akan belajar memilih apa yang pantas sebagai masa depan mereka dan generasi penerusnya.

Permasalahannya adalah, sistem informasi di negara kita yang tertutup kemudian menghalangi hak mereka untuk paling tidak, tahu bahwa mereka yang miskin pun punya kesempatan untuk duduk dalam jenjang pendidikan yang tersedia, melalui segala macam beasiswa yang memang ada. Informasi tersebut pun harus diiringi dengan keinginan dari si empunya diri untuk mengambil kesempatan tersebut.

Suatu hari saya melakukan sebuah observasi untuk program bantuan yang akan saya rancang. Observasi dilakukan dengan melihat keinginan anak-anak maupun remaja di daerah Bantul untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi atau paling tidak melaksanakan pendidikan yang sedang ditempuhnya dengan maksimal (dalam arti berusaha mencapai prestasi dalam level sekolah). Dari hampir sebagian besar anak maupun remaja mengarah pada tidak adanya keinginan untuk berprestasi atau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Alasan yang diberikan pun klise, entah beban biaya yang ditanggung orang tua, atau memang mereka malas.

Malas, memang sebuah masalah kecil. Namun menjadi masalah besar ketika sikap ini berlaku secara sustain. Sikap malas didorong oleh beberapa hal, situasi dan kondisi yang tidak kondusif untuk belajar, misalnya lingkungan pergaulan (peer group) yang juga terjebak dalam kondisi yang sama (miskinnya). Ada ungkapan lama yang mengatakan, “Manusia diciptakan sama pintarnya, yang membedakan mereka hanya rajin atau malas nya manusia tersebut.” Sikap malas akan membuktikan ketidakgigihan seseorang dalam memperjuangkan haknya, sikap rajin akan membuktikan sebaliknya.

Bahwa kemiskinan kemudian menghalangi manusia untuk mendapatkan pendidikan yang layak, bukan sebuah alasan yang bagus. Karena dalam beberapa kasus, orang yang miskin pun banyak yang kemudian mampu membebaskan diri dengan meraih pendidikan yang tinggi, entah dengan jalan beasiswa ataupun jalan lainnya. Ya, kegigihan dan ketekunan memang akan membantu seseorang untuk maju menjadi lebih baik.

– – –

Saya tidak tahu pemerintah sadar atau tidak, bahwa apa yang mereka lakukan dengan Program BLT (Bantuan Langsung Tunai) berperan dalam menjebak masyarakat miskin dalam jurang ketergantungan dan kemiskinan yang semakin dalam. Kita sama-sama tahu bahwa memang mereka membutuhkan bantuan atau uluran tangan, tapi Program BLT sama sekali tidak membantu. Dan sama sekali tidak mendidik masyarakat untuk lebih giat dalam berusaha dan bekerja. Seharusnya, subsidi yang dicabut dari APBN dialihkan untuk menyediakan beasiswa pada anak-anak yang tidak mampu secara ekonomi, namun berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan. Dengan begitu, setidaknya pemerintah dapat menyelamatkan satu generasi dari kemiskinan struktural.

Dengan Program BLT yang akan diluncurkan pemerintah, masyarakat akan dididik untuk menjadi ‘bodoh’ dan cenderung ‘nerimo‘ dengan keadaan yang mereka hadapi. Bayangkan, tidak bekerja pun, toh mendapatkan uang paling tidak seratus ribu setiap bulan. Kemudian mereka akan berkata, “Ah, lumayan dapat seratus ribu, baik sekali pemerintah kita.”.

Kemungkinan lainnya adalah, Program BLT yang dibagikan dengan tanggung jawab RT (Rukun Tetangga) dapat menimbulkan konflik diantara anggota RT tersebut. Bagaimana tidak, sangat sulit saat ini membedakan rumah tangga yang miskin, apalagi menentukan layak tidaknya seseorang mendapatkan bantuan tersebut. Yang ada, ketika seseorang mendapatkan bantuan, sangat mungkin tetangganya merasa lebih berhak mendapatkan bantuan tersebut. Kemudian menyulut konflik lokal, yang bisa terjadi di berbagai daerah.

—-

Kemudian saya bertanya-tanya, apakah pemerintah memang memiliki komitmen dalam mengatasi kemiskinan dan mengangkat tingkat kesejahteraan rakyat? atau mungkin pemerintah justru memanfaatkan program BLT untuk menunjukkan ‘kebaikan hati’nya seperti yang biasa dilakukan dalam pola ‘serangan fajar’ ketika mendekati masa pemilu?

thanks to Leksa atas diskusinya

2 Komentar

Filed under opini saya, works

2 responses to “Terjebak dalam Kemiskinan

  1. spekulasi saja soal BLT dan menunjukkan niat baik pemerintah ini, plus serangan fajar itu..
    cuma dari perkiraan, mereka yang nerima ya tidak tahu apa-apa yang terjadi di ‘sini’ ..

    lo ribut2, gue , semua pakar sosial, ekonom dll..
    tapi toh yang mereka tahu cuma harga mahal karena BBM naek, dan pemerintah memberi bantuan…

  2. itu masalahnya lek, mereka gak punya pengetahuan soal itu, lagipula bagaimana mungkin mereka bisa mengerti, baca koran saja paling yg dibaca berita kriminal. nonton tivi, yg disiarkan sinetron.
    sesuai perkiraan lo, hari ini gk ada demo yg besar, semua normal, semua lancar, kenaikan bbm dilupakan. hehehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s