Kebangkitan Nasional memang (hanya) Sejarah Indonesia

Sinar matamu tajam namun ragu/ Kokoh sayapmu semua tahu/ Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan/
Kuat jarimu kalau mencengkeram/ Bermacam suku yang berbeda/ Bersatu dalam cengkeramanmu

Angin genit menghembus merah putihku/ Yang berkibar sedikit malu-malu/ Merah membara tertanam wibawa/ Putihmu suci penuh kharisma/ Pulau pulau yang berpencar/ Bersatu dalam kibarmu

Terbanglah garudaku/ Singkirkan kutu-kutu di sayapmu oh…/ Berkibarlah benderaku/ Singkirkan benalu di tiangmu/ Jangan ragu dan jangan malu/ Bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah membumbung tinggi/ Bangunlah putra putri pertiwi/ Mari mandi dan gosok gigi/
Setelah itu kita berjanji/ Tadi pagi esok hari atau lusa nanti

Garuda bukan burung perkutut/ Sang saka bukan sandang pembalut/ Dan coba kau dengarkan/
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut

Yang hanya berisikan harapan/ Yang hanya berisikan khayalan

Iwan Fals, Bangunlah Putra Putri Pertiwi

Hari ini ya hari ini, diperingati oleh Bangsa Indonesia sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Semua mungkin bertanya, apa yang bangkit dari bangsa kita. Tidak ada, memang. Bangsa ini punya semua hal. Sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang tidak kalah dengan bangsa lain. Apa yang kita tidak punya? Mental mungkin, untuk menjadi bangsa yang lebih besar. Dulu suatu hari, Bung Karno pernah mengingatkan,

Perjuanganku kini lebih ringan karena musuhku adalah penjajah asing, sedang perjuanganmu lebih berat karena lawanmu adalah Bangsamu sendiri.

Begitu kira-kira Bung Besar mengingatkan. Mungkin puluhan tahun yang lalu pun, beliau sudah bisa membaca bagaimana mental bangsa Indonesia. Ya inlander, terjajah, sangat communal (bila tidak mau dikata individualis). Kita tidak pernah mau belajar bermufakat, karena bermufakat melupakan golongan, dan mengingatkan harkat kebangsaan. Maka bermufakat harus dilupakan. Karena jasa teman satu kelompok mungkin lebih penting dari kewajiban atas bangsa.

Itulah Bangsa Indonesia, terima atau tidak, itu kenyataannya.

Kita punya kewajiban untuk Bangsa Indonesia. Kita semua punya. Taruhlah, 10 tahun yang lalu, ketika reformasi tiba-tiba bangkit di negara ini, sebagai momentum kebangkitan yang kedua. Ya, reformasi yang kemudian dimaknai dengan salah. Reformasi dimaknai sebagai lepasnya sebuah bangsa dari bui sentralisme pemerintahan. Kemudian kebebasan dimaknai bukan dalam perspektif demokrasi, tapi lebih pada liberalisme.

Demokratis, Indonesia demokratis, patut dicontoh. Itu yang selalu digaungkan oleh pemimpin negara-negara maju untuk mendukung proses ‘liberalisasi’ negara ini. Padahal, pelan-pelan secara ekonomi maupun sosial budaya, kita jadi lebih liberal, lebih terbuka, lebih nerimo! Lihat contoh kecil saja, semua merasa punya hak untuk kebebasan bertindak, memang semua manusia punya, tetapi kadang kebebasan tersebut melanggar hak orang lain.

—–

Sebagai sebuah Negara, kita kaya akan sumber daya alam, semuanya sangat layak untuk dijadikan komoditas perdagangan. Gas alam, kelapa sawit, minyak mentah, beras, gula, perikanan,  peternakan, kayu-kayuan, semuanya bahkan pasir putih sekalipun. Lalu apa masalahnya?

Dengan berlakunya liberalisasi di negara ini, maka peran pemerintah akan terpotong habis dalam mengatur sektor publik. Sektor swasta vis-a-vis sektor publik. Maka komoditas yang begitu banyak dan besarnya di negara ini, dapat dikuasai oleh sektor swasta, sebagai pengelola. Berarti kuasa modal berbicara. Siapa punya modal kuat, dia jadi penguasa. Maka konglomerasi kembali berkuasa. Semua komoditas dijual bebas. Tata niaga pengelolaan komoditas bangsa menjadi urusan para konglomerat atau investor asing (pemilik modal). KIta sebagai sebuah bangsa hanya bisa melongo. Tidak kebagian jatah padahal milik sendiri. Inlander, memang inlander.

—–

Kalau kita mau, kalau saja mau. Kita punya banyak komoditas, saudara tau itu. Nasionalisasi penguasaannya! Aset bukan untuk dijual, apalagi ketika menguntungkan!

Kita penghasil minyak bumi, masa’ harus ikut kena krisis minyak dunia? Kita penghasil batubara, masa’ listrik rumah sering kena pemadaman sementara? Kita penghasil minyak sawit, masa’ rakyatnya beli minyak goreng susah? Kita penghasil semua bahan mentah dan bahan pokok, masa’ rakyatnya susah? Mana pemerintahnya? Sibuk dagang?! Inlander!

_____

Saudara tau siapa Bosnya Inlander ? Itu IMF dan Mafia Berkeley. IMF punya resep liberalisasi, mafia berkeley manggut-manggut setuju. Semua tau, IMF itu hanya mengatur keuangan, finansial, moneter, ekonomi makro. Lha kok diatur manggut-manggut aja. Gak punya harga diri. Bangsa sendiri kok ya dijual.

Sektor riil, ekonomi mikro, itu yang paling penting buat membangun bangsa ini, tentu dengan azas pemerataan, bukan azas pertumbuhan saja. Tumbuh pasti tumbuh, tapi siapa yang tumbuh? Si A, si B, si C yang punya modal. Lantas mau dikemanakan rakyat kecil yang tidak punya modal, tidak punya keahlian. Lha pendidikan aja gak diurus, dianggap beban anggaran.

Rakyat perlu diberdayakan, tapi sebelum itu rakyat perlu dibebaskan, di-mer-de-ka-kan. Dengan pendidikan! Itu namanya antisipasi. Apa mau rakyatnya jadi gembel, wong KTP gak punya saja lantas ditangkap satpol PP. Apa mau rakyatnya jadi PKL semua, wong baru dagang sebentar saja sudah dianggap mengganggu keindahan lingkungan.

—-

Ah, Kebangkitan Nasional!

Pemerintah gembar gembor pasang banner, spanduk, iklan, “100 Tahun Kebangkitan Nasional  :  Indonesia Bisa!”. Bisa apa? Mabok keadaan. Yang dikampanyekan omong kosong, yang tukang kampanye omong doang.

—-

Bantuan Langsung Tunai, opo kuwi? Seratus ribu, minyak goreng, dan gula. pak Bupati Sragen saja tidak mau melaksanakannya. Sudah tidak efektif, memicu konflik horizontal pula!

—–

Kebangkitan Nasional mungkin memang hanya ada dibuku sejarah.

3 Komentar

Filed under interpoleksosbud, opini saya, personal, works

3 responses to “Kebangkitan Nasional memang (hanya) Sejarah Indonesia

  1. Kita penghasil minyak bumi, masa’ harus ikut kena krisis minyak dunia? Kita penghasil batubara, masa’ listrik rumah sering kena pemadaman sementara? Kita penghasil minyak sawit, masa’ rakyatnya beli minyak goreng susah? Kita penghasil semua bahan mentah dan bahan pokok, masa’ rakyatnya susah? Mana pemerintahnya? Sibuk dagang?! Inlander!

    Sebuah ironi melihat negara yang kaya akan sumber daya alam menjadi salah satu negara dengan sebagian besar masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan.

    Mereka2 yang di atas sana ongkang2 kaki nunggu duit sedangkan masyarakat di bawah harus banting tulang ke sana ke mari demi mencari sesuap nasi. Ada jurang yang teramat lebar antara si kaya dan si miskin.

  2. ira

    Kebangkitan Nasional mungkin memang hanya ada dibuku sejarah.

    coba lah anda maju jadi presiden dan gerakkan hati orang2 Indonesia yg nampaknya sudah acuh tak acuh bahkan terhadap negaranya sendiri.

  3. hmmmm.. inget slogan kampanye-nya SBY-JK waktu itu “Bersama Kita Bisa”…

    pengen nanya sekarang ma tuh bapak-bapak, Bersama kita bisa apa ya???? kok jadi cuma slogan kosong doang??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s