Pendidikan Bangsa

Kahlil gibran, pernah berkata, anak-anakmu adalah anak panah yang melesat sesuai arah busur yang kau hendaki. dalam Qur’an pun kita tahu, bahwa anak adalah titipan dari-Nya, untuk diarahkan agar menjadi anak yang sholeh, berakhlaq mulia, dan mampu meneruskan cita-cita Rasulullah.

hari ini 119 tahun yang lalu, adalah hari dimana seorang tokoh pendidikan nasional kita, Ki Hadjar Dewantara, dilahirkan. untuk menghormatinya, maka hari ini, 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hadjar yang hidup di masa pergulatan bangsa memperjuangkan kemerdekaan melawan penjajahan, pernah berkata, “Substansi pendidikan sebagai upaya memerdekakan manusia”. Baginya, pendidikan bangsa yang lemah merupakan awal dari penjajahan yang terjadi di Indonesia kala itu. Tanpa pendidikan yang layak, maka mental kita bahkan, akan mudah dijajah, diinjak, diperbudak. Karenanya, pendidikan menjadi hal yang sangat penting.

Indonesia, sudah berumur 63 tahun. Masa yang bagi seorang manusia, boleh dianggap memasuki usia lanjut. Namun, bagi sebuah bangsa jalan kita masih panjang.

Kita, sebagai manusia Indonesia, punya banyak guru yang patut dicontoh. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak meniru, bermalas-malasan, atau apapun tindakan yang kontra-produktif terhadap pendidikan.

Kembali ke bahasan awal, mengenai seorang anak. Boleh dibilang tidak ada orang tua yang tidak menginginkan anaknya menjadi sukses, menjadi orang yang berguna, menjadi orang seutuhnya. Merdeka, berdaulat atas diri sendiri, dapat memenuhi apa yang menjadi kewajiban, dapat memperoleh apa yang menjadi haknya. Untuk mencapai itu semua, adalah mutlak kita membutuhkan pendidikan.

Di Indonesia, bangsa ini punya masalah dengan budaya. tidak menghargai budaya tanah air, lebih menghargai budaya asing. terlebih bangsa muda saat ini, banyak tokoh bilang, generasi MTv. Ya, siapa tidak tahu MTv. Saya ingat seorang tokoh pemberontakan bangsa minoritas latin, Subcomandante Marcos, pernah bilang, “Bila dunia pernah mengalami, 3 Perang Dunia (PD I, II, dan Perang Dingin), maka saat ini ada perang yang lebih berbahaya, yaitu perang budaya.” Lalu budaya siapa yang diperangi, dan budaya siapa yang memerangi?

Saya, adalah orang Jawa, saya percaya pada pertanda. Bahwa, Allah menciptakan alam semesta bagi manusia, adalah agar manusia mau belajar darinya (alam semesta). Dunia kekinian, terbagi dalam dua budaya, Budaya Barat, yang serba modern, cepat, instan, canggih, mutakhir; dan Budaya Timur, yang serba ‘tradisional’, lambat, penuh kepasrahan, lemah.

Seperti matahari (saya umpamakan sebagai budaya peradaban) yang terbit di Timur, maka pada akhir senjanya, matahari akan tenggelam di Barat. Ya, perang itulah yang sedang terjadi. Matahari sebagai peradaban. akan berakhir dengan budaya Barat yang menenggelamkan budaya Timur. sadar tidak sadar itu yang sedang terjadi. Mungkin abad ke depan, generasi berikutnya akan lupa darimana mereka berasal, budaya seperti apa yang seharusnya mereka punya. Mereka tidak akan lagi punya budaya, mereka hanya punya satu budaya. Global. saya sendiri lebih senang menyebutnya Gombalisasi.

Terlalu jauh mungkin saya bicara. Tapi, coba lihat generasi kita, adik-adik kita. mereka tidak lagi diajarkan untuk membaca, menulis, bahkan memilih. Semua disuapi. dari A sampai Z. tidak mampu menolak, karena terbiasa menerima begitu saja. maka, generasi tidak lagi skeptis, apalagi kritis. Bagaimana bisa mau skeptis atau kritis bila semua disuapi? Bagaimana mau menulis, bila membaca saja tidak mau? Lalu, bagaimana bisa memilih yang baik atau yang buruk, bila tidak tidak tahu apa-apa? Kenapa, karena semuanya instan. gombal. ini-itu mau cepat. gak punya mental untuk struggling even for a while!

UN

saya memang tidak mengalami masa ketika, nilai UN dipatok sedemikian rupa. maka ketika mengerjakan UN pun, mungkin saya lebih lepas. akhirnya, hasilnya memuaskan.

memasuki masa UN dengan patokan nilai, banyak kasus yang minor di kalangan siswa, guru, bahkan orang tua murid. Beli jawaban, Suap guru, apapun lah agar bisa lulus. Diakui atau tidak, kasus itu terjadi di depan mata kita. Kenapa terjadi? seperti yang sudah saya bahas, semua mau instan. Apa yang sulit dari nilai minimal 5 misalnya? Dimana daya juang? Apa bangsa kita masi punya daya saing? Atau sistem pendidikan kita yang menyuapi A-Z menjebak siswa dan guru pada kebingungan?

Yang terakhir buat saya yang menjadi masalah. bahwa memori manusia unlimited, bukan tidak mungkin. asal dioptimalkan kemampuannya. Masalahnya, kebijakan pendidikan Indonesia tidak beradaptasi pada psikologi manusia sebagai pembelajar. Sebagai manusia, kita butuh will (kemauan) untuk mampu menerima sesuatu hingga dapat mengerti penuh. Tanpa will, tidak bisa semua diterima dengan baik, apalagi maksimal.

Sekarang pertanyaan saya, apa kita semua punya will? untuk maju, menjadi bangsa beradab, tanpa harus kehilangan budaya sendiri, tanpa kehilangan kearifan lokal, tanpa kehilangan jati diri?

Ingat satu hal, dalam surah Ar Ra’du ayat 11, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Maka, tanpa kemauan kita sendiri untuk belajar. bahkan UN saja pun kita akan gagal. Padahal, masi banyak ujian lain yang lebih berat dalam hidup.

Tetap Semangat, Tetap Berjuang, Selamat Malam!

walau pahit, saya tetap harus katakan, Selamat Hari Pendidikan Nasional!

2 Komentar

Filed under interpoleksosbud, opini saya

2 responses to “Pendidikan Bangsa

  1. ah, dulu pas aku masi SMA, orang-orang pada ribut kenapa cuma 3 pelajaran aja yang di UN kan… aku malah bersyukur (hehehehe)

    Sekarang? liat aja, ada 6 mata pelajar, dan standarnya tinggi betul. belum lai, ujian sehari dua… ck ck ck…

    untung aku udah lulus…

  2. segala sesuatnya pasti ada masalah
    tak terkecuali dengan pendidikan, masalahnya adalah bukan apa masalahnya tapi bgaimana kita mengatasinya

    kalo hanya janji dan janji, serta berbagai tindakan yg penuh keraguan dan tidak pasti, maka pendidikan bangsa akan sulit untuk maju

    maka yang ada hanya sinis belaka, maka untuk itu PR bagi pemerintah adalah mengambil dan melaksanakan tindakan nyata untuk memajukan pendidikan bangsa, mengontrol dengan seksama, tidak hanya menyerahkannya pada daerah, karena masing2 daerah mempunyai kemampuan yang berbeda-beda

    yah, standar kelulusan makin tinggi, tp pendidikan belum merata,
    belum lg jg masalah ini, memang, banyak “korupsi” dalam pendidikan, contohnya menyuap itu tadi, dan bukankah itu menunjukan kalo bangsa kita masih perlu pendidikan moral? bukan hanya lewat PKN saja,

    begitulah pendapat saya, mengenai selanjutnya, silakan kunjungi blog saya dengan postingan yang berkenaan dengan pendidikan bangsa
    harap komen apalagi kita diskusi

    http://opinibocah.blogspot.com/

    wassalam^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s