imbauan presiden sby

kalo saja bangsa ini mau sadar dengan sejarah, mungkin kita tidak akan mengalami hal yang sama berulang kali. saya membaca buku yang ditulis seorang tokoh reformasi 98, dalam bukunya beliau mengutip apa yang dikatakan George Bernard Shaw (1856-1950), seorang dramawan dan sosialis dari Irlandia. Shaw mengatakan: “if history repeats itself, and the unexpected always happens, how incapable must man be of learning from experience“.

Shaw mengajarkan pada kita, bahwa manusia sulit menemukan sedikit kecerdasan untuk mampu memetik pelajaran dari apa yang pernah terjadi.

Saya kemudian ingat prinsip ‘roda kehidupan’ yang ditulis oleh entah siapa, dikatakan bahwa “hidup itu bergulir seperti sebuah roda, kadang kita berada di atas, kadang kita berada di bawah”.

Bagi sebuah bangsa yang ‘katanya’ besar seperti Indonesia, seharusnya pengalaman jatuh-bangun menjadi sebuah pelajaran yang baik untuk kemudian mengambil hal positif, dan membuang hal negatif yang merugikan. Ingat dulu suatu kali, sebagian besar mahasiswa didukung tokoh-tokoh nasional menggerakkan reformasi. Reformasi terjadi, pergantian pemerintahan, pergantian presiden, kabinet, aparat, birokrat. Waktu bergulir. Lama rasanya sudah 10 tahun pasca reformasi 98.

Apa yang sama setelah reformasi yang gegap gempita? semuanya sama. Pemerintah rajin berjanji. Rakyatnya tidak kunjung sejahtera. Harga Bahan Pokok sering tak terkendali. Kelangkaan. Korupsi. Suap. Konflik. Political Non-sense. Yang duduk diatas ribut berebut posisi. Media mem-blow up berita, seolah-olah itu political non-sense lebih pantes jadi headline ketimbang masalah rakyat di level akar rumput. Gak pernah ada yang sadar. Itu semua non-sense. Saya belajar politik, tapi kemudian saya mual sendiri membaca case-study yg terjadi.

Ah.

Malam ini agak berbeda, Presiden SBY, dengan mata yang bengkak, dan nampak kelelahan, memberikan himbauan kepada masyarakat, dan bangsa  Indonesia.  Beliau meminta pengertian rakyat agar kita lebih berhemat, karena pemerintah terbebani anggarannya akibat mensubsidi BBM dan listrik. Beliau juga mengimbau agar kita kembali bersama-sama (saya jadi ingat slogan kampanye SBY-JK ‘Bersama Kita Bisa’) dalam menghadapi krisis energi dan pangan yang sedang terjadi. Secara umum, beliau mengajak masyarakat untuk meningkatkan efisiensi dalam berbagai hal, dunia usaha, instansi pemerintah, dll.

Mendengar pidato Presiden SBY, perasaan saya campur aduk. Ada sedih, ada dongkol, ada senang, juga ada sedikit rasa apatis untuk tidak berharap banyak.

Kalau saya boleh mengkritik, dari semua janji yang diberikan para pemimpin Indonesia, terutama pasca reformasi, boleh dibilang tidak banyak implementasinya. Mungkin, mungkin, Para pemimpin itu sudah benar, tapi kesalahan ada pada jajaran aparat dibawahnya. Yang mentalnya terkorupsi. Dan sudah melembaga.

Atau mungkin, mungkin, para pemimpin juga masing-masing punya kepentingan sendiri selama memerintah. Yang akhirnya membuat kecenderungan pada kebijakan yang ‘sok populis’ padahal ‘mbodohi’ karna bahasa kebijakan yang ambigual. Ambigual? ya, demi melindungi kepentingan diri sendiri. Kalau ternyata itu yang terjadi, apa ya gak takut ya mereka dihakimi di akhirat nanti soal pertanggungjawaban atas bangsa dan negara.

Saya, secara objektif lebih condong melihat dengan kemungkinan yang pertama,  bahwa  jajaran vertikal dibawah pemerintahan Indonesia sudah terkorupsi mentalnya.  Ada yang rusak dalam sistem dan lembaga. Sehingga apapun yang dilakukan pemerintah, tidak akan efektif, tidak akan efisien, apalagi ada hasilnya. Kenapa saya melihat seperti itu? (1.) Presiden-presiden kita itu terpilih secara demokratis yang berarti merupakan pilihan rakyat banyak, melalui Pemilu yang bersih. Dengan rakyat Indonesia yang sudah semakin cerdas, saya melihat bahwa mereka tidak akan terpilih menjadi presiden, bila rakyat tidak merasa sreg dengan kemampuan atau track-record yang mereka miliki. Berarti presiden-presiden kita itu paling tidak, pasti punya ilmu yang mumpuni dan diakui rakyat pemilih (2.) Jajaran dibawah pemerintahan, merupakan posisi yang berjenjang berdasar pada karir individu, yang mungkin dan sangat mungkin diperoleh dengan segala macam pelicin. Saya tidak menuduh, tapi pada kenyataannya memang begitu. Bahkan untuk masuk jadi PNS saja, ada jalur non-test yang memakai pelicin sekian puluh juta, apalagi mau naik jabatan. Kalau begitu caranya, lantas bagaimana mau memberikan pelayanan publik yang baik? wong, masuk kerjanya saja sudah nyuap.

Hasilnya, Indonesia seperti telur diujung tanduk. Maju kena, mundur kena. Rakyatnya mabuk keadaan. Pemerintahnya mabuk kekuasaan. Kemiskinan struktural, ibarat sebuah komputer, memorinya corrupt, monitornya njeblug, hard-disknya jebol. Mawut.

trus kenapa si gak ada yang mau belajar dari sejarah??

Ah.

Tinggalkan komentar

Filed under interpoleksosbud, opini saya, works

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s