langit merah, di surganya

jamku berdetak seraya berkata,

“kawan, waktumu semakin pendek”
aku berbalik, di kertas tertulis semuanya
aku hanya tertawa

malaikat memanggilku
nabi merasuk mimpiku
tuhan menyentil telingaku
aku tertawa

semakin pendek ingatanku
semakin banyak aku tulis untukmu
semakin kencang jantungku
semakin dingin aku hidup

kau pun tertawa
aku dicerca

langit merah-geram
bukan hujan datang
hanya senja

perlahan

dan menjemput
nyawaku pelan

lagi

 aku tertawa
dan ia terdiam
26.12.2005 04:00

Tinggalkan komentar

Filed under puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s