ruang baru

Setelah berpikir berulang-ulang. Akhirnya saya memutuskan untuk pindah blog. The Cayman Islands yang biasa menjadi ruang saya untuk menulis mulai membosankan. Saya butuh ruangan baru untuk menulis. Dan pilihan saya atas ruangan itu jatuh kepada blog ini. dengan nama saya sebagai bagian dari alamat url nya. Kenapa? suka-suka saja. Gak ding. Selalu ada alasannya yang sesungguhnya, tapi rasanya saya tidak perlu bercerita. Anda nikmati saja ruangan baru itu. Oke. Ringan di bandwidth, tapi insyAllah lebih berisi.

RUANGAN BARU ITU

screenshoot-blog

regards,

Aditya Sani

11 Komentar

Filed under personal

pilih idenya

Masa kampanye yang sesungguhnya semakin dekat dengan kita, Kawan. Spanduk, poster, kalender sampai leaflet sudah memenuhi sudut-sudut kota. Jakarta atau daerah, sama saja. Seminggu terakhir di kampung betawi, tempat saya tinggal, sudah berdiri dua posko partai. Satu partai kebo ireng dan yang satu partai yang katanya pake hati. Di mobil pribadinya, Caleg yang katanya berhati nurani itu pun memajang stiker besar berlambang partai dan tak lupa foto dirinya bersama sang jenderal. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Pak caleg kebo ireng lain lagi caranya, dia undang seisi kampung untuk datang ‘pengajian’. Bubar pengajian, sembako senilai dua puluh ribu rupiah dibagikan. Yang ‘lucu’, beberapa tetangga kemudian mendesis,

“ah mending juga dibagiin duit, kita mah gak butuh sembako…”.

Kejadian diatas mungkin tidak hanya terjadi di kampung saya saja.

***

Suatu siang saya sedang di dalam angkot (angkutan kota), mata saya memicing pada kaca belakang kendaraan ini. Pemandangan cutting stiker besar, tertulis disana “DJUANDA, SH : Mari lawan ketidakadilan” dan tentu saja foto sang Caleg berhati nurani. Senyum saya menyimpul, tergelitik untuk mencari tau apakah ada angkot lain yang memasang stiker yang sama. Saya pun turun di depan pasar kebayoran lama, tempat menumpuknya segala jurusan angkot -dari dan ke- ciledug. Lima belas menit saya mencari-cari, sudah lima angkot yang memajang stiker yang sama. Pikir saya, narsis juga bapak yang satu itu.

Pakde ini rupanya merasa belum cukup hanya menempel cutting stiker diangkot. Dipasangnya pula bendera-bendera berukuran satu kali setengah meter entah berapa ratus jumlahnya. Tak lupa, namanya, logo partai dan nomor yang kabarnya sakti, enam. Puas dengan cutting stiker dan bendera? Oh belum. Ada satu trik lagi untuk membantu ingatan masyarakat. Spanduk-spanduk besar dengan tulisan yang sama besar, DJUANDA SH. Entah apa tujuan spanduk itu, karena kali ini hanya namanya saja, tanpa embel-embel. Mengambang, persis seperti masyarakat pemilih Indonesia pada umumnya.

Sampai dirumah, saya merasa ‘mabuk djuanda’. Bagaimana tidak? di angkot, di ujung gang, di atas ruko, di pagar pembatas jalan layang, di mana-mana.

***

Setiap kali saya berfikir tentang siapa yang akan saya pilih Pemilu nanti. Tiap kali itu juga saya diam karena tidak punya jawaban. Apa kiranya kriteria caleg atau capres yang layak dipilih?

1. Sering mengadakan pengajian lalu bagi-bagi sembako atau duit
2. Foto, dan taglinenya mejeng dimana-mana
3. Kebetulan ‘yang bersangkutan’ tetangga sendiri

Tiga kriteria diatas mungkin sering menjadi acuan para pemilih mengambang. Masalahnya, bila hanya tiga poin diatas yang jadi bahan pertimbangan, bisa-bisa berabe semua urusan yang berhubungan dengan publik.

Lalu apa ya yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan?

Ide atau solusi yang dibawa oleh sang caleg atau capres. Ide bukan sekedar janji, apalagi tagline beo seperti Mari Lawan Ketidakadilan. Kita sama-sama tahu masalah publik di masyarakat dan negara begitu banyak. Tapi, sudah seharusnyalah seorang caleg atau capres maju ke depan dan menyampaikan ide-ide yang mereka ingin tanamkan dalam rencana kerja setelah terpilih. Kenapa? sederhana saja, orang Indonesia sudah lelah dijanjikan ini itu.

Saya ambil contoh sederhana saja, Kawan. Indonesia misalnya punya beberapa issue penting, sebutlah ketahanan pangan, penanaman modal asing, dan penguatan industri nasional. Ketiganya saling berkaitan, langsung maupun tidak langsung. Lalu timbul pertanyaan, dari ketiga issue tadi mana yang harus didahulukan sehingga ketiganya tumbuh-kembang secara berkelanjutan dan mendorong kesejahteraan?

Nah, caleg atau capres yang layak pilih akan dengan berani mengajukan sebuah proposal berisi ide-ide untuk menjadi solusi permasalahan yang ada.

***

Sudah bertemu caleg atau capres yang punya proposal seperti itu, Kawan?

Anyway, Kawan merasa ‘mabuk djuanda’ juga gak? hahaha..

3 Komentar

Filed under opini saya

Robot

lgfp1823protect-destroy-transformers-the-transformers-movie-poster

Robot- robot ini dalam ukuran aslinya akan hadir dihadapan Anda. HBO Asia telah menerbangkan Autobot® and Decepticon® dalam ukuran sebenarnya ke Jakarta. Berdasarkan informasi yang saya terima dari Shia LaBeouf, mereka akan mendarat di Lantai 2, Atrium Mal Taman Anggrek (MTA), 29 November 2008, mulai pukul 10.00 wib. Shia juga mengatakan bahwa kedua robot ini ada di MTA selama dua hari saja dan kemungkinan besar melanjutkan perjalanan ke negara lain.

See you there, guys! :-D

UPDATE :

Sabtu, 29 November 2008, akhirnya saya datang ke MTA untuk melihat apa yang ditawarkan oleh HBO. Dan saya dengan amat terpaksa harus kecewa. The whole event is fun actually, but not for me. It’s for the kiddo (ages 5 to 15). For those who wants to meet a real robot, be prepare to be dissapointed. But, for those who bring his/her younger brother (So-so lah).

to HBO (Karen Lai and Angela), R&R (Mbak Rika, Mas Harry, Mbak Eny, Fifin, Astried, Ade) :  Anyway, thanks for the invitation to write some feedback about the event. The lunch was great, i’m full. Hehe.

12 Komentar

Filed under advertorial, Event, Jakarta

human loves human by kontraS

poster-movie-section-1Human Loves Human is a social campaign by KontraS. The purpose is to prevent acts of violence and human rights violations. It does so by inspiring people to love each other because ignorance towards others and injustice for the weak can be transformed into tolerance and respect for every human being.

Human Loves Human will be presented by KontraS in an important cultural event: the Jakarta International Film Festival (JiFFest). JiFFest is widely known for its role in promoting the film industry as well as presenting entertaining films. At JiFFest, films are presented as a source of inspiration for people to do big things.

The movie Indiana Jones inspired Butet Manurung, a teacher teaching at a jungle school for orang rimba, which also continues to inspire many people. Soe Hok Gie started his struggle by discussing inspirational movies. The characters Lintang and friends in the movie Laskar Pelangi is an inspiration for children not to give up easily in the face of difficulties. Movies are a bridge between the politics and culture and work of art.

Human Loves Human is an effort to strengthen the bridge by spreading peace and anti violence. Violence and wars pollute the kind of clean politics and culture needed for the best interests of the public and common welfare.

Love in ‘Human Loves Human’ may be interpreted as an expression of human love. It would not be wrong. What we want to nurture is a greater kind of love between human and other living creature. Eric Fromm wrote about the art of loving in the warm relationship between mother-father and children, best friends, and lovers in affection, humility, sacrifice and courage. Human history has proven that hate and greed have caused human sufferings and destruction of universe, including global warming. All of which worsen the lives of human and other living creature.

Let’s celebrate the spirit of Human Loves Human by watching the best humanitarian movies at JiFFest this year. Enjoy the movies and let’s share the hope!

For more information :

The Commission for The Disappeared and Victims of Violence (KontraS)
Jl. Borobudur No. 14, Menteng
Jakarta Pusat 10320
Indonesia
P: +62 (0) 21 3926983
F: +62 (0) 21 3926821
M: +62 (0) 817 5455229

email-blast-ad_1

notes : You can see the event schedule written on the poster above, simply right click your mouse and open in a new tab. See you there! ,rgds

4 Komentar

Filed under advertorial, Event, Jakarta

Vrijman

Vrijman, sebuah kosakata Belanda yang arti harfiahnya orang bebas, merdeka. Dalam bahasa Inggris, vrijman sejajar maknanya dengan kata ‘free’ dan ’man’. Free, diterjemahkan sebagai bebas, merdeka dan man diterjemahkan sebagai orang laki-laki, dewasa, manusia. Sayangnya dalam bahasa Indonesia, kata ‘vrijman’ yang diserap menjadi ‘preman’ mengalami perubahan makna dan berkonotasi negatif. Preman diartikan sebagai individu/sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya, terutama dari pemerasan individu/kelompok masyarakat lain.

Nah, aparat kepolisian RI melakukan sebuah usaha yang patut diacungkan jempol, walaupun mungkin saja sia-sia. Preman-preman ditangkap. Diperiksa identitasnya, digelandang masuk ke dalam sel. Mereka, para preman itu, anak bangsa yang salah arah. Mereka ada karena terhimpit keadaan, entah lingkungan sosial, atau ekonomi. Cengeng? Belum tentu. Terpaksa? Bisa jadi.

Masalahnya apakah karena terhimpit keadaan lantas menjadi preman dibenarkan, kan tidak. Ingatan kemudian membawa saya pada sepotong lirik lagu yang dinyanyikan Ikang Fauzi, diberi judul Preman.

Di zaman resesi dunia / pekerjaan sangat sukar / juga pendidikan
Di sudut-sudut jalanan / banyak pengangguran
Jadi preman / ‘tuk cari makan
Di balik wajah yang seram/ tersimpan damba kedamaian
Di balik hidup urakan /mendambakan kebahagiaan
Bahagia…bahagia…bahagia…

Seorang preman tidak membutuhkan apa-apa. Tidak butuh ditangkap, tidak butuh ditanyai macam-macam. Mereka hanya butuh memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan layak. Sebuah masalah klasik yang sebenarnya kompleks. Soal pemerataan kesejahteraan, dan pemenuhan hak azasi manusia atas pendidikan yang cukup.

Solusi yang paling feasible untuk mengurangi praktek premanisme salah satunya adalah kontrol sosial yang dilakukan anggota masyarakat sendiri. Dengan melaporkan kepada pihak terkait misalnya. Atau dengan membina para preman tadi untuk masuk kembali ke masyarakat. Tidak perlu takut pada mereka, apalagi berprasangka buruk. Mereka juga manusia, diciptakan semata untuk beribadah pada sang Pencipta. Masyarakat harusnya bisa belajar dari apa yang dilakukan H. Anton Medan. Beliau membina mereka-mereka yang baru ‘lulus’ dari hotel prodeo, agar tidak kembali salah arah. Dan ‘siswa’ binaan beliau pun terbukti bisa berkarya walaupun raport hidupnya sudah dinoktah dengan cap ‘mantan napi’.

Di kampung saya, mereka-mereka yang terlanjur dicap sebagai preman diajak warga untuk berkarya, dengan modal dari swadaya masyarakat. Beberapa dermawan bahkan mengajak mereka untuk bekerja. Hasilnya, mereka kini tidak lagi meresahkan dan justru membantu warga lainnya menjaga keamanan kampung.

Apakah teman-teman punya solusi lainnya?

21 Komentar

Filed under personal

Inspirasi

hidup-tak-bisa-menungguBuku, baca, dan mulailah bermimpi. Tiga hal itu saling berkaitan. Buku merupakan pintu bagi dunia yang luas. Dalam ceritera komikal Doraemon, sebuah buku direpresentasikan sebagai ‘pintu kemana saja’. Dari sebuah buku biografi misalnya, anda mungkin akan dapat bertemu tokoh-tokoh sekaliber Ibu Theresa, dan Putri Diana. Atau dari sebuah buku sains, anda bisa saja menjadi mengerti kenapa buah apel bisa jatuh kebawah, atau mungkin kenapa ekor kadal tetap bergerak meskipun sudah terputus. Banyak pintu-pintu menarik lainnya yang bisa kita jelajahi melalui sebuah buku.

Membaca merupakan pengalaman paling personal yang dilakukan setiap orang. Ya, setiap manusia dianugerahi dengan alam berfikirnya masing-masing. Setiap jejaring ingatan kemudian saling berasosiasi dengan apa yang kemudian kita baca dari sebuah buku. Kemudian terbentuklah sebuah kumpulan memori baru, yang isinya sangat personal. Sebuah interpretasi dari apa yang telah dibaca. Bila bahan bacaan yang diterima kemudian menginspirasi secara personal. Maka lahirlah hal ketiga, mimpi.

Mulai bermimpi tentu saja belum cukup untuk menjelajahi hidup. Mungkin cukup untuk mereka yang senang melayang dalam imajinasi atau sekedar berenang dalam lautan fantasi.

***

Sebagai bagian dari corporate social responsibility (CSR), Sunsilk memiliki konsep yang menarik. Sebuah kampanye besar yang bertagline ‘Sebab Hidup Tak Bisa Menunggu, juga Rambut Indahmu!’. Prosesnya dimulai dengan mengumpulkan cerita-cerita yang mampu menginsirasi perempuan Indonesia untuk mampu bermimpi dan berusaha menggapainya. Proyek yang digarap bersama dengan Grup Femina ini berhasil mengumpulkan kurang lebih 5000 cerita dari perempuan Indonesia. Memang tidak semua cerita kemudian secara serampangan masuk ke dalam final projectnya. Setelah dilakukan seleksi yang cukup ketat, hadirlah lima kisah paling inspiratif.

Kelima kisah ini digarap ulang oleh Prameshwari Sugiri, pemred majalah Seventeen, ke dalam bentuk cerpen yang menurut saya cukup mempesona. Tidak cukup dengan kelima kisah tadi, Krisdayanti, Brand Ambassador Sunsilk, pun ikut membagi kisah hidupnya. Dan kini lahirlah sebuah buku yang diharapkan mampu menginspirasi para perempuan Indonesia. Judul buku ini sesuai dengan tagline kampanye Sunsilk, “Hidup Tak Bisa Menunggu”.

Saya yang juga kebagian buku ini, harus mengacungkan kedua jempol saya untuk tim dari Sunsilk, Femina Grup, R&R Communications, dan tentu saja kelima perempuan yang telah bersedia berbagi inspirasi dalam buku ini.

***

Bagi sebagian besar perempuan, rambut merupakan mahkota. Mewakili segala aspek yang berkaitan dengan nilai-nilai estetika. Lebih jauh lagi bahkan ada yang sampai menilai rambut merupakan representasi filosofi hidup seorang perempuan. Buat saya, sederhana saja. Rambut perempuan yang indah itu punya tiga kriteria standar : hitam, terurai panjang dan berkilau.

Anda mungkin bertanya, bagaimana ya cara dapet rambut mendekati tiga kriteria indah tadi? Aha! Gunakan Sunsilk!

notes : Anda tertarik untuk membaca bukunya?
klik gambar di atas untuk keterangan lebih lanjut.

9 Komentar

Filed under advertorial

Pahlawan teror

Mereka yang pernah berjuang untuk membantu negeri ini menjadi nyata, tidak pernah mengharapkan gelar. Hidup mereka memang sudah digariskan menjadi seorang pejuang. Gelar “pahlawan” ditambah embel-embel kata “nasional”, saya rasa tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran. Saya percaya mereka saat ini sudah tenang karena tugas sudah dibayar tunai. Walaupun perjuangan tidak pernah mengenal garis final. Soal bagaimana sebuah perjuangan dilanjutkan, itu sudah menjadi urusan kita-kita, generasi yang masih bernafas di bumi pertiwi.

Menyoal penghormatan cukup diberikan dengan melanjutkan perjuangan mereka setulus hati. Tidak perlu kemudian berpolemik soal siapa yang pantas dan kriteria apa yang menjadi standar baku agar seseorang bisa mendapat gelar. Sudahlah, mereka yang pahlawan saja tidak pernah meributkan soal itu. Kenapa kita yang masih hidup malah ribut? Apa iya mereka sempat menulis wasiat kepada anak cucunya agar suatu hari diajukan proposal mengenai pemberian gelar pahlawan nasional? Kan tidak.

Kalaupun ada sebuah wasiat misalnya, pasti isinya pesan yang singkat soal melanjutkan tugas yang mereka perjuangkan selama ini. Itu yang lebih penting. Negeri ini hanya butuh satu hal : mereka yang mau berjuang. Tidak lagi butuh mereka yang senang beradu otot, atau senang berteriak-teriak. Ibu pertiwi sudah lelah melihat darah yang mengalir. Ini sedikit ribut. Itu sedikit lempar batu. Agh STOP!

Teror. Itu kata yang melompat-lompat di kepala saya. Negeri ini penuh teror. Ada yang hanya main-main. Mungkin otak dan hatinya sudah pindah ke bawah kaki. Ada juga yang dengan semangat, mengepalkan tangan, dan berteriak, “Kami akan melanjutkan perjuanganmu Ya Amrozi! Ya Mukhlas! Ya Imam Samudera!”. Nah yang ini mungkin otaknya sudah digadai dengan dendam. Lugu, berwawasan sempit, dan yang paling berbahaya, gelap mata.

Saya mengelus dada, ketika melihat berbagai tayangan di televisi mengenai eksekusi mati trio bomber Bali. Beragam komentar, beragam argumen, dan lagi-lagi polemik menyoal hal-hal yang buat saya non-sense. Yang satu melarang mereka menggunakan kata ‘mujahidin’, yang satu tidak mau kalah ‘bombastis’. Dikatakan, “mereka yang melarang kami menggunakan kata ‘mujahidin’ berarti melanggar HAM!”.

Seminggu terakhir ini melihat berita di televisi terasa melelahkan. Ya ya ya, silahkanlah kalau anda-anda mau pakai gelar pahlawan. Terserah sajalah. Bukan tidak peduli, bukan. Satu hal yang diinginkan orang awam seperti saya ini, kedamaian, itu saja.

Ya Allah, berikan negeri kami hidayahMu, luruskan pandangan kami tentang agamaMu, bersihkan pikiran dan hati kami dari kata dendam, dan suudzon, rahmati kami dengan keadilanMu, jauhkan negeri kami dari kemiskinan, dan lapangkan kami rizkiMu, Ya Allah. Sesungguhnya Engkau yang Maha Mengabulkan segala permintaan. Kabulkanlah permohonan kami. Amiin.

7 Komentar

Filed under opini saya, personal