Arsip Kategori: personal

You might read it, If you want it..

Kalau saya boleh jujur, saya bosan dengan tulisan sendiri. Gaya bahasanya, pemilihan kata yang digunakan, ide tulisan yang itu-itu saja. Ya, jenuh saya menulis tentang itu-itu saja. Tapi, apa daya, mungkin sejauh ini kemampuan saya baru sampai situ. Mungkin saya perlu lebih banyak membaca, supaya referensi tulisan saya semakin luas, supaya pembaca juga lebih mudah memaknai tulisan saya. Karena, gaya penulisan saya yg remeh dan bertema membosankan, menurut saya tidak efektif dalam menyampaikan pesan yang ada dalam tulisan. Padahal, cita-cita saya menjadi penyampai pesan.

Saya iri dengan ndorokakung, pakdhe mbilung, si pejalan jauh, unclegoop, mas iman brotoseno, leksa, antobilang, dan banyak penulis (blogger lainnya) yang tulisannya -meminjam istilah teman saya- ‘membumi’. Terkadang mereka hanya berbagi entah kisah keseharian, pengalaman travelling, atau apapun, dan hebatnya tulisan mereka menjadi menarik, menggugah sekaligus menenangkan pembacanya. Buat saya, mereka mengagumkan.

—-

Saya tidak ingin menjadi penulis yang menggurui pembacanya. Saya lebih ingin menjadi penulis yang menjadi penggugah, penenang, dan teman bagi pembacanya. Ah ya, saya akan belajar menulis lebih baik lagi. Kalau saudara-saudara sekalian punya saran dan kritik, saya tunggu lho.

Terima kasih :-)

Indonesia memiliki jumlah petani yang besar (28 juta penduduk lebih), petani juga punya posisi politik yang penting sebagai konstituen politik. Yang patut disayangkan adalah petani tidak pernah mampu menyuarakan kepentingan politiknya. Ya, sejak zaman Presiden Soeharto dulu, petani hanya berguna sebagai ’stabilisator’ politik dalam negeri, terutama petani beras. Karena jumlah penduduk yang sedemikian besarnya di Indonesia, maka pemerintah perlu menjaga tingkat ketahanan pangan. Lantas petani sebagai produsen langsung komoditas beras, ditekan sedemikian rupa agar selalu produktif. Kasarnya posisi petani di Indonesia seperti ’sapi perah’ pemerintah.

Memasuki masa reformasi yang juga masa dimana krisis ekonomi menyeruak, sektor pertanian menjadi ‘bumper’ bagi limpahan pekerja yang ‘terbuang’ dari sektor industri baik barang maupun jasa. Pun begitu, jasa sektor pertanian terhadap negara tidak pernah diperhatikan. Padahal, pertanian merupakan sektor ekonomi riil/mikro yang merupakan awal dari semua kondisionalitas yang dibutuhkan demi berkesinambungannya pembangunan. Banyak contoh negara lain yang membangun sektor pertaniannya dulu dan mengelolanya dengan baik hingga saat ini, sebut saja Taiwan, dan Jepang. Kedua negara tersebut berhasil memberikan kesejahteraan pada rakyatnya, karena sektor pertanian didukung penuh oleh pemerintah. Lalu muncul pertanyaan, kenapa Indonesia tidak melakukannya juga?

Indonesia, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, memperlakukan petani sekedar sebagai alat, untuk berproduksi, untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, terutama yang menggunakan beras sebagai bahan makanan pokok. Model kebijakan pertanian yang diterapkan pun top-down, yang diartikan sebagai bentuk kebijakan dengan input dari pemerintah untuk meregulasi publik di bawahnya. Padahal, di negara lain kebijakan pertanian menggunakan model bottom-up, sebuah model kebijakan yang melibatkan publiknya untuk menyumbangkan input kebijakan sehingga dapat menyalurkan/menyampaikan kepentingannya. Dengan model bottom-up maka organisasi petani/pedesaan menjadi penting untuk ada, sedang dengan model top-down, organisasi petani hanya akan diisi oleh elit pedesaan yang menguasai lahan/modal.

Dulu, pada masa kita belajar ekonomi di SD/SMP mungkin pernah mengenal KUD/BUUD (Koperasi Unit Desa/Badan Usaha Unit Desa). Diajarkan juga pada masa itu bahwa kedua organisasi tersebut ‘berperan’ dalam membangun pedesaan, dan manfaat ini-itu lainnya. Saya tidak akan menyanggah hal tersebut, juga tidak akan menyalahkan para guru ekonomi yang mengajarkannya. Permasalahannya adalah, sebenarnya KUD/BUUD tidak pernah berfungsi secara optimal sebagai sebuah organisasi petani/pedesaan. Kenapa? Karena pemerintah hanya memfungsikan Koperasi dan Badan Usaha tersebut sebagai pos untuk menempatkan para elit pedesaan yang menjadi tangan kanan pemerintah dalam menjaga stabilitas politik di daerah. Para elit sendiri pun entah sadar atau tidak menjadi alat pemerintah, yang jelas mereka senang mendapat jabatan di KUD/BUUD, karena prestige dan previledge yang mereka dapatkan di desa.

Seandainya saja, organisasi petani itu ada secara resmi dan berfungsi dengan baik, mungkin petani tidak akan menjadi ’sapi perah’ pemerintah lagi dan pertanian kita tidak rentan lagi terhadap sekedar faktor cuaca atau hama. Karena kepentingannya tersampaikan. Karena subsidi yang jelas, mereka dapatkan. Karena teknologi pertanian bisa mereka kembangkan. Karena mereka bisa berkumpul, berorganisasi dan berteriak ketika keadilan tidak ditegakkan.

catatan : gambar diambil dari sini

:: tempora mutantur, et nos mutamur in illis (waktu berubah dan kita berubah didalamnya) ::

Indonesia membutuhkan banyak Intelektual organik, untuk menggerakkan bangsa dan menantang globalisasi, dengan kriteria sebagai berikut :

1. sigap dan cepat tanggap, karena globalisasi merupakan survival of the fastest, bukan lagi survival of the fittest;

2. memiliki kesadaran kritis, bukan kesadaran naif;

3. tidak menyukai model kebijakan top-down, dan lebih senang bergerak dari akar rumput (model kebijakan bottom-up), demi input kebijakan yang sesuai;

4. senang berkutat dengan perubahan (mengacu pada kriteria no.1);

5. mampu menjaga kemandirian;

6. tidak mudah dikooptasi oleh kekuasaan;

7. kreatif (mengacu pada Ubermensch-nya Nietschze);

8. peduli pada 34 juta penduduk yang miskin di Indonesia (ketujuh kriteria diatas merupakan tambahan dari poin ini).

Bila anda merasa memiliki kriteria tsb diatas, mari kita berdiskusi disini.

Tabik!

Saya membayangkan Indonesia memiliki sistem peradilan yang kuat dan tegas, dalam artian membuat jera dan tidak melenakan si terhukum. Misalnya penerapan hukuman mati untuk koruptor dan pelaku (pengedar dan pemakai) narkoba. Keras? jelas. Tegas? tentu saja. Bikin jera? tentu saja. Tapi apakah baik? belum tentu.

Sejujurnya, saya tidak tahu perihal seluk beluk ilmu hukum. Yang saya tahu, sebuah konsep sederhana, bahwa mereka yang terbukti bersalah, patut dihukum, dan mereka yang benar, patut mendapat keadilan.

Begini, mungkin Anda pernah mendengar atau membaca perihal kasus-kasus korupsi di China dan bagaimana lembaga peradilan mengatasi ‘penyakit’ tersebut. Mereka, yang terbukti melakukan korupsi di Cina akan mendapatkan vonis mati dan dieksekusi mati. Namun, berbagai pihak menentangnya karena hukuman mati dianggap melanggar HAM dan dapat digunakan sebagai alat penguasa untuk menyingkirkan mereka-mereka (sebutlah, oposisi) yang tidak diinginkan. Karenanya seperti yang saya sebutkan diatas, hukuman mati belum tentu baik.

Indonesia. Saya mengingatnya sebagai negara yang carut marut sistem peradilannya. Bagaimana bila, hukuman mati diterapkan di Indonesia? Mungkin kah kasus2 korupsi menurun tingkatnya? Atau mungkin kah justru dimanfaatkan penguasa untuk berlaku tidak demokratis?

Kedua opsi tadi, memiliki persentase kemungkinan yang sama. 50 : 50. Bayangkan bila kasus BLBI yang sekarang seolah memiliki efek domino itu, kemudian dapat dibuktikan didepan hukum, lantas menyeret sekian puluh birokrat atau pejabat atau koruptor berjama’ah yang terlibat di dalamnya. Dan mereka yang memang bersalah, mendapat hukuman mati. Dooorr! tewas. Jera. Mungkin ruang sidang perwakilan rakyat kita akan sepi, atau mungkin lembaga eksekutif kita dibekukan. Mungkin? mungkin.

Bayangkan lagi bila, hukuman mati ternyata menjadi alat penekan oposisi. Dalam artian, mereka yang bersuara sumbang terhadap pemerintah, kemudian dihukum mati secara legal, atau hilang begitu saja seperti ditelan bumi. Mungkin kita tidak lagi menjadi negara yang ‘demokratis’. Mungkin kita akan mengalami deja vu, seolah di negara ini pernah mengalami hal seperti itu. Mungkin? mungkin.

——–

Ah, tau apa saya.

Sekarang, saya lebih ingin bermimpi tentang Indonesia yang manusia-manusianya belum terkorupsi pikirannya, yang dalam hidupnya tidak hanya memikirkan materi sehingga ‘terpaksa’ korupsi. Yang semua sistem dalam negaranya bekerja dengan baik, efektif, dan efisien. Muluk memang, tapi saya juga punya hak kan untuk memimpikan Indonesia? :))

Indonesian Visual Arts Archive (IVAA) dan Lembaga Indonesia Perancis (LIP) bergabung. Memberdayakan jaringan masing-masing untuk menunjukan partisipasi dalam kampanye penghijauan dunia (Go Green), dimulai dari lingkungan keberadaan mereka: Yogyakarta.
Sesuai dengan lininya, IVAA menggandeng para pekerja kreatif untuk turut serta dalam kegiatan ini. IVAA adalah lembaga pengarsipan kegiatan seni rupa dan budaya visual Indonesia. IVAA akan meluncurkan kampanye baru bertajuk ‘Goes Green’ pada hari Minggu, 13 Juli 2008 ini. Kampanye ini merupakan manifestasi keinginan IVAA untuk berpartisipasi dalam penghijauan kembali dunia.
Di LIP, Pasar Organik menjadi agenda utama selebrasi kemerdekaan Perancis di LIP pada hari Sabtu, 12 Juli 2008. Jaringan LIP, mulai dari murid kursus sampai lembaga lainnya, dikerahkan dalam acara peringatan hari kemerdekaan Perancis yang sebenarnya jatuh pada 14 Juli itu. LIP juga mendukung gerakan global penghijauan kembali dunia.
Mengingat ‘penghijauan’ adalah kata kunci dari kedua kegiatan ini, parade sepeda kemudian menjadi titik temunya. Ide ini muncul karena jumlah komunitas sepeda di Yogya tidak sedikit pesertanya adalah para pelaku kesenian dan Tour de France, kompetisi sepeda yang sudah lebih dari seabad usianya setiap bulan Juli di Perancis. IVAA dan LIP, sebagai institusi kebudayaan di Yogyakarta, berusaha mempertemukan kedua kegiatan mereka demi memperluas cakupan partisipan dalam kampanye ini.
IVAA-LIP Green Tour mempertemukan mereka. Minggu, 13 Juli 2008 ini IVAA-LIP Green Tour mengajak kelompok-kelompok cinta sepeda, penggemar sepeda artistik, dan siapapun yang aktif bersepeda dalam kesehariannya untuk berparade dari LIP (Jl. Sagan 3) ke IVAA (Jl. Patehan Tengah 37). Parade ini akan diramaikan oleh JOC, Cyclist Report, Low-Rider, Green Map, Bike to Work, dan BMX.

Acara di LIP, Sabtu 12 Juli 2008
* Pasar organik/daur ulang
* Cooking Class
– Di Café LIP
– Dilaksanakan pada pukul 15.00–16.00
* Kursus bordir dengan Kinoki
– Di LIP Galerie
– Dilaksanakan pada pukul 15.00–18.00
* Kelas bahasa Perancis
– Di Ruang 1
– Dilaksanakan pada pukul 16.00
* Tato Henna
– Di Café LIP
* Pemutaran film animasi « Les triplettes de Belleville »
– Di Café LIP

Jadwal Parade Sepeda
14.00 | Kumpul di LIP
14.30 | Karnaval Sepeda Berangkat Menuju IVAA
17.00 | Sampai IVAA

Rute Parade Sepeda
LIP – Perempatan Colombo – Jalan Gejayan – Selokan Mataram – Jalan Kaliurang – Perempatan Mirota Kampus – Bunderan UGM* – Gramedia Jalan Solo – Perempatan Tugu – Stasiun Tugu – Malioboro – Benteng Vredeburg* – Alun-alun Utara – Jalan Wijilan – Alun-alun Selatan – IVAA
* = tempat peristirahatan, performans pesepeda, dan bagi-bagi tanaman

Acara di IVAA
* Dimulai pukul 16.00 WIB
* Launching Merchandise Baru
* Ayo, Sablon Kaosmu!
– Moki dan Gintani Art Space
* Potong Rambut ala Boy
– Andre Kurniawan
* Stand Regol (*)
– Kaos, Pin, Merchandise, Magz
* Open House IVAA
– Launching Merchandise Baru: IVAA Goes Green!
– Performans Mural oleh Love Hate Love
– Performans Hiphop oleh YORC
– Pameran Kerjasama Patehan dan Nagan Tengah (*)
* Energizing High Tea
– Teh, kopi, dan snack sore oleh IVAA

Peserta Parade Sepeda
Komunitas Podjok | Low-Rider | Taring Padi | Green Map | Cyclist Report | Bike to Work | JOC

Logo dalam Poster
Penyelenggara
IVAA | LIP

Sponsor
Grand Mercure | Novotel | Ibis | Blazzo

Rekanan
Regol Media | Milas | Rumah Teman | Lawe | Kinoki | Gintani Art Space | Cyclist Report | JOC
Green Map | Taring Padi | Bike to Work | Podjok | Love Hate Love/YORC | Boy’s Haircut ;)

Contact info : ivaa@ivaa-online.org, relationspub-lip@idola.net.id

—————-

Ini event yang sangat bagus, karenanya saya merasa perlu dan kudu untuk posting di blog ini. Saya sendiri akan datang dan mengikuti parade bersepedanya dari jam 2 siang. Mari kita ramaikan, Bagaimana Sodara-sodara? ;)

btw, Posternya bisa diliat disini. Lokasi IVAA nanti saya post menyusul ya.

Jadi, sudah sebulan terakhir -kurang lebih- saya bersepeda. Tapi baru kemarin ini saya akhirnya memilih bergabung dengan sebuah komunitas pekerja bersepeda, B2W Chapter Jogja nama klubnya. Komunitas ini berisi berbagai tipe manusia, dari orang yang sekolah hingga pekerja, anak-anak hingga kakek-kakek, perempuan hingga (eh.. dan) laki-laki. Yang membuat saya kagum, ternyata saya tidak sendirian. Banyak orang lain yang juga bersepeda, entah apapun alasannya, yang jelas, mereka pesepeda. Lalu apa yang mau saya bagi kepada Anda-anda disini?

Oke, begini.. Saya pesepeda pemula di Jogja. Kesan pertama saya bersepeda di jogja, adalah semrawut. Peraturan dan segala kelengkapan bersepeda sudah saya terapkan dan gunakan pada diri sendiri. Still, Jogja punya jalanan yang semrawut dan seperti arus liar. Sebentar ada motor dari kanan, sebentar dari kiri, nanti tiba-tiba ada bis mepet ke kiri jalan, nanti ada ini, itu. Aghhh.. Beruntung saya punya klakson model cangkem (mulut dan berteriak) yang bunyinya HEYY!! atau WUOOOYY!!, supaya orang tidak mengganggu perjalanan bersepeda saya. Semua pengguna jalan raya, entah kenapa punya setting ignore kepada pengguna lainnya. Seradak-seruduk, serobot sana serobot sini, pokoknya jalan punya sendiri.

Nah, bergabung dengan B2W membuat saya merasa memiliki teman bersepeda, dan akhirnya ketika bersepeda commuter pun saya tidak lagi merasa sendirian, atau malahan merasa menjadi orang aneh. Buat temen-temen pembaca yang belum pernah bersepeda, coba deh pake sepeda buat paling tidak jalan-jalan aja. Berikut saya berikan alasan-alasan yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan. Pertama, bersepeda secara rutin akan dapat merangsang kerja jantung, melancarkan sirkulasi darah, dan aliran oksigen ke paru-paru dan otak. Kedua, bersepeda dapat menjadi terapi stress, karena aliran oksigen dan peredaran darah lancar, kadang juga membuat adrenalin terpompa, dan itu menyenangkan tentunya. Ketiga, bersepeda memicu kita untuk berhemat, at least uang yang biasanya untuk membeli bensin, berkurang dan bisa ditabung. Alasan lainnya, tidak ada. Yang pasti, bersepeda sehat buat badan. Itu sudah cukup untuk menjadi alasan.

——-

Oiya, saya tidak punya rute favorit bersepeda, karena itu tadi saya bersepeda untuk bersenang-senang, menghilangkan stress, sekalian berolahraga. Jadi, kemana hati ingin bersepeda, kesana kaki akan mengayuh.